Sabtu, 01 Oktober 2011

hipersekresi dan hiposekresi kelenjar medula adrenal.

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Kelenjar endokrin merupakan sekelompok susunan sel yang mempunyai susunan mikroskopis sangat sederhana, kelenjar ini tidak mempunyai saluran keluar dan mencurahkan sekresinya langsung ke sirkulasi darah. Misalnya kelenjar adrenal yang berada di atas masing-masing ginjal (syaifuddin, 2006)
Kelenjar adrenal diproduksi dalam rangka untuk memproses berbagai fungsi yang terjadi dalam tubuh manusia. Kelenjar adrenal yang paling dikenal untuk mengembangkan banyak perempuan dan laki-laki hormon. Hormon-hormon ini sangat penting bagi tubuh seseorang disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka terutama bertanggung jawab untuk memberikan tubuh dengan kortikal, yang berkaitan dengan tingkat seseorang stres. Masalah dengan kelainan kelenjar adrenal adalah bahwa mereka dapat menyebabkan seseorang kelenjar membangun terlalu sedikit jumlah hormon dan juga mungkin bagi gangguan ini menyebabkan kelenjar adrenal tubuh untuk membentuk sejumlah hormon yang mungkin terlalu banyak bagi siapa pun tubuh untuk menangani (Sapto, 1996)
Anda bisa yakin untuk menemukan kelenjar adrenal ini di atas dasar masing-masing ginjal. Masing-masing kelenjar ini memiliki banyak bentuk segitiga kecil. Salah satu kelenjar adrenal ini mengambil ruang yang sedikit kurang dari satu inci panjang dan lebar tentang empat inci paling. Meskipun gangguan ini dapat menjadi perhatian besar, adalah bahwa itu mengancam kehidupan, ada untungnya banyak kelompok-kelompok pendukung yang satu ini pasti dapat menemukan secara lokal. Untungnya, banyak dokter telah menemukan bahwa gangguan kelenjar adrenal dapat diperlakukan sesuai dengan kelainan tertentu, seperti: Sindrom Cushing dan Tumor hipofisis. The National Institute of Child Health dan Human Development adalah cabang utama dukungan yang juga membimbing banyak penelitian untuk gangguan ini (Sapto, 1996)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan secara global didapatkan hasil bahwa insiden terjadinya penyakit ini adalah 1 dari setiap 100,000 orang populasi di
dunia. Penyakit ini dapat menyerang semua umur dan pada semua kelompok
jenis kelamin. Insufisiensi adrenal secara keseluruhan kejadiannya jarang, dengan insiden <0,01% pada populasi umum. Pada kelompok tertentu risiko untuk berkembangnya insufisiensi adrenal cukup signifikan. Beberapa penelitian menunjukkan insiden insufisiensi adrenal pada pasien kritis bervariasi mulai 0-77% tergantung pada populasi yang diperiksa dan kriteria diagnosis yang dipakai. Namun secara keseluruhan insiden insufisiensi adrenal pada pasien dengan penyakit kritis sekitar 30%, dengan insiden setinggi 50-60% pada pasien dengan syok septic (Wikipedia, 2011)
Berdasarkan data tersebut kelompok tertarik untuk membahas topik mengenai gangguan yang diakibatkan karena hiposekresi dan hipersekresi kelenjar medula adrenal agar nantinya kita mengetahui asuhan keperawatan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah hipersekresi dan hiposekresi kelenjar medula adrenal tersebut.

B.     Tujuan Penulisan
Tujuan Umum :
Untuk memahami asuhan keperawatan pada klien dengan hipersekresi dan hiposekresi kelenjar medula adrenal.
Tujuan Khusus : setelah mempelajari topik tentang asuhan keperawatan pada klien dengan hipersekresi dan hiposekresi kelenjar medula adrenal  harus mampu :
1.      Menyebutkan anatomi dan fisiologi system endokrin
2.      Menjelaskan pengertian kelenjar medula adrenal
3.      Menyebutkan hipersekresi dan hiposekresi kelenjar medula adrenal
4.      Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan hipersekresi dan hiposekresi kelenjar medula adrenal
5.      Mengaplikasikan asuhan keperawatan pada klien dengan hipersekresi dan hiposekresi kelenjar medula adrenal

C.     Ruang Lingkup
Dalam makalah keperawatan medikal bedah ini kami membahas tentang asuhan keperawatan pada klien dengan hipersekresi dan hiposekresi kelenjar mudula adrenal.



D.    Metode Penulisan
Penulisan dalam menyusun makalah ini penulis menggunakan metode deskriftif yaitu memaparkan atau mendeskripsikan tentang bagaimana asuhan pada klien dengan hipersekresi dan hiposekresi kelenjar medula adrenal dengan studi kepustakaan serta artikel-artikel yang kami dapatkan dari internet.

E.     Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini terdiri dari 4 BAB, yaitu :

BAB I              : Pendahuluan, Latar belakang, ruang lingkup, tujuan penulisan,metode
                          penulisan dan  Sistematika penulisan
BAB II             : Tinjauan teoritis yang berisikan anatomi dan fisiologi system endokrin,
                          Hipersekresi kelenjar medula adrenal, dan hiposekresi kelenjar medula
                          adrenal
BAB III            : asuhan keperawatan pada klien dengan hipersekresi dan hiposekresi
                          Kelenjar medula adrenal
BAB IV           : penutup yang berisikan saran dan kesimpulan
Daftar Pustaka















BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.     Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Adrenal
1.      Pengertian
Kelenjar adrenal atau suprarenal, terletak retroperitoneal pada ujung superior tiap-tiap ginjal.. Kelenjar adrenal berbentuk ceper dan terdapat dibagian atas ginjal dengan berat 5-9 gram, dan terdapat pada masing-masing ginjal. Kelenjar adrenal terdiri dari dua bagian, yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar ( korteks) berasal dari sel mesodermal (hormone steroid), sedangkan  bagian dalam ( medula ) berasal dari sel ektodermal (hormone katekolamin). Meskipun secara struktur bersambungan, korteks adrenal dan medula adrenal adalah organ yang terpisah baik dari asal jaringan maupun fungsi fisiologik (Sapto, 2001)
Korteks adrenal bertanggung jawab untuk sekresi tiga kelompok hormone steroid utama. Mineralokortikoid dan glukokortikoid adalah dua hormone yang paling penting, dan hormone ketiganya adalah androgen. Glukokortikoid utama adalah kortisol. Mineralokortikoid utama adalah aldosteron. Pengaturan sekresi hormone adrenokortikal diselesaikan terutama melalui ACTH, yang bekerja lansung mengontrol glukokortikoid dan steroid seks. Sekresi aldosteron terutama dikontrol ole system rennin-angiotensin-aldosteron dan oleh kadar kalium dan natrium serum
VB78D1
Gambar: lokasi dan penampilan kelenjar adrenal dalam pandangan anterior
Sumber : (http://www.harunyahya.com, 2011)
2.      Struktur dan Fungsi Kelenjar Adrenal
Bagian cortex adrenal ( kuning ) terdiri dari:
a.       Zona glumerulosa mineralocortikoid (aldosteron )
Proses pengaturan renin Arah ke angiotensin dan menurunkan tekanan darahatau aliran darah ginjal ke sel junkta glomeralis ginjal( Angiotensin Idan Angiotensin II( vasokontriksi pembuluh darah))
b.      Zona fasciculate Glukokorticoid (kortisol)
Fungsinya :
1.      Meningkatkan kegiatan metabolisme berbagai zat dalam tubuh
·        Meningkatkan glikogenesis dan glukogenesis dalam sel hati
·        Meningkatkan metabolism protein terutama diotot dan tulang
·        Meningkatkan sintesis DNA dan RNA dalam sel hati
·        Menahan ion Na dan Cl, meningkatkan sekresi ion K di ginjal
·        Meningkatkan lipolisis jaringan perifer, deposit lemak
2.      Menurunkan ambang ransang susunan saraf pusat
3.      Menggiatkan sekresi asam lambung
4.      Menguatkan efek noadrenalin terhadap pembuluh darah dan merendahkan permeabilitas dinding pembuluh darah
5.      Menurunkan daya tahan terhadap infeksi dan menghambat pembentukan atibodi
6.      Menghambat pelepasan histamine dalam reaksi alergi
c.       Zona retikularis Gonadocorticoid (estrogen & androgen)
1.      Androgen; terutama ketosteroid dehidroepialdosteron maskulinisasi meningkatkan anabolisme protein dan merangsang pertumbuhan
2.      Estrogen; pada keadaan fisiologis tidak mempunyai efek feminisasi
d.      Chromaffin in cells of medulla epinephrine & norepinephrine
1.      Epinefrin (adrenalin), Meningkatkan denyut jantung dam kekuatan kontraksi jantung, memfasilitasi aliran darah ke otot dan otak, menyebabkan relaksasi oto halus, membantu dengan konversi glikogen menjadi glukosa dalam hati.
2.      Nonepinefrin (nonadrenalin) hormone ini memiliki pengaruh yang kecil pada otot polos, proses metabolism dan cardiac output, namun memiliki efek vasokontriktif kuat (penyempitan pembuluh darah), dengan demikian meningkatkan tekanan darah.

3.      Vaskularisasi Kelenjar Adrenal
Kelenjar adrenal disuplai oleh sejumlah arteri yang masuk pada beberapa tempat disekitar bagian tepinya. Ketiga kelompok utama arteri adalah arteri suprarenalis superior, berasal dari arteri frenika inferior, arteri suprarenalis media, berasal dari arteri aorta, dan arteri suprarenalis inferior berasal dari arteri renalis.berbagai cabang arteri membentuk pleksus subkapsularis yang mencabangkan tiga kelompok pembuluh : arteri dari simpai, arteri dari korteks, yang benyak bercabang membentuk jaingan kapiler diantara sel-sel parenkim (kapiler ini mengalir dalam kapiler medula) dan arteri dari medula, yang melintasi korteks sebelum pecah membentuk bagian dari jalinan kapiler luas dari medula (Karolin M, 1996)
Suplai vaskuler ganda ini memberikan medula dengan darah arteri (melalui arteri medularis) dan darah vena (melalui arteri kortikalis). Endotel kapiler ini sangat tipis dan diselingi lubang-lubang kecil yang ditutupi diafragma tipis. Di bawah endotel terdapat lamina basal utuh. Kapiler dari medula bersama dengan kapiler yang mensuplai kortex membentuk vena medularis, yang bergabung membentuk vena adrenal atau suprarenalis.

Gambar : vaskularisasi kelenjar medula adrenal

4.      Medula Adrenal
Kelenjar ini dasarnya merupakan modifikasi ganglion simpatis. Akson neuron simpatis preganglion dating dari korda torakik melalui saraf spnknikus. Akson ini bersinap pada medula adrenal dengan sel-sel posganglion termodifikasi yang mengalami kehilangan aksonnya dan mensekresi bahan kimia lansung kedalam aliran darah. Oleh karenanya medula adrenal dapat dengansesuai ditinjau sebagai perpanjangan endokrin lengan simpatis dari sistm saraf otonom (Barbara, 1996)
Medula adrenal berfungsi sebagai bagian dari system saraf otonom. Stimulasi serabut saraf simpatik preganglion yang berjalan lansung kedalam sel-sel pada medula adrenal akan menyebabkan pelepasan hormone katekolamin, yaitu epinefrin dan nonepinefrin. Katekolamin mengatur lintasan metabolic untuk meningkatkan katabolisme bahan bakar yang tersimpan sehingga kebutuhan kalori dari sumber-sumber endogen terpenuhi (Barbara, 1996)
Epinefrin dan nonepinefrin yang disekresi oleh medula adrenal menyerupai efek dari rabas massa dari neuron simpatis. Terlepas dari hal tersebut keduanya menghasilkan beberapa aksi metabolic. Epinefrin dan nonepinefrin juga dapat menghasilkan efek yang berlawanan dengan menstimulasi reseptor-reseptor  adrenergik pada sel-sel islet. Karena efek banding dari kedua hormone pada reseptor-reseptor  adrenergik. Hasil akhirnya adalah bahwa epinefrin menaikan glukosa plasma lebih banyak ketimbang nonepinefrin (Barbara, 1996)
Fungsi kelenjar suprarenalis bagian medula terdiri dari:
a.       Vasokontriksi pembuluh darah perifer
b.      Relaksasi bronkus
c.       Kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi perdarahan pada operasi kecil




B.     Mekanisme Pengaturan Sekresi
Epinefrin disekresikan di bawah pengendalian sistem persarafan simpatis. Dapat meningkat dalan keadaan dimana individu tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Pengeluaran yang bertambah akan meningkatkan tekanan darah untuk melawan shok yang disebabkan oleh situasi darurat. Sekresi hormon ini terjadi dengan meningkatan kerja sistem pernafasan yang mengakibatkan paru-paru bekerja ekstra untuk mengambil oksigen lebih banyak hingga meningkatkan juga peredaran darah di seluruh bagian tubuh mulai dari otot-otot hingga ke otak, dan peningkatan tersebut disebutkan beberapa riset bisa naik mencapai 300% melebihi batas normal. Akibatnya, bukan jantung saja yang dapat terasa berdebar, namun keseluruhan sistem tubuh termasuk pengeluaran keringat juga akan meningkat dengan cepat (black, 2009)
 Aliran darah di kulit akan berkurang untuk dialihkan ke organ lain yang lebih penting sehingga orang-orang yang menghadapi stress biasanya gampang berkeringat, dimana dalam pengertian awam sering disebut keringat dingin.
Sekresi ini menaikkan konsentrasi gula darah dengan menaikkan kecepatan glikogenolisis di dalam liver. Rangsangan sekresi epinefrin bisa berupa stres fisik atau emosional yang bersifat neurogenik (black, 2009)
Faktor yang berfungsi mengatur sekresi epinefrin, antara lain :
a.         Faktor saraf: Bagian medula mendapat pelayanan dari saraf otonom. Oleh karena itu sekresinya diatur oleh saraf otonom
b.         Faktor kimia: Susunan bahan kimia atau hormon lain dalam aliran darah mempengaruhi sekresi hormon tertentu.
c.          Komponen non hormonal

Epinefrin segera dilepaskan di dalam tubuh saat terjadi respon terkejut atau waspada.  Saat tubuh mengalami ketegangan yang parah, hipotalamus mengirimkan perintah ke kelenjar pituitari agar melepaskan ACTH (hormon adrenokortikotropis).  Di sisi lain, ACTH merangsang korteks adrenal, mendorong pembuatan kortikosteroid.  Kortikosteroid ini memastikan produksi glukosa dari molekul-molekul seperti protein, yang tak mengandung karbohidrat. Akibatnya, tubuh menerima tenaga tambahan dan tekanan pun berkurang (Sapto, 2001)
Cairan ini mengirimkan lebih banyak gula dan darah ke otak, membuat  orang lebih siaga.  Tekanan darah dan detak jantungnya meningkat, membuatnya lebih waspada.  Ini hanyalah beberapa perubahan yang dihasilkan epinefrin pada tubuh seseorang. Saat ada bahaya, reseptor di dalam tubuh ditekan, dan otak mengirimkan perintah secepat kilat ke kelenjar adrenal. Sel-sel di bagian dalam kelenjar adrenal lalu beralih ke keadaan siaga dan melepaskan hormon epinefrin untuk menghadapi keadaan darurat. Molekul-molekul epinefrin bercampur dengan darah dan menyebar ke seluruh bagian tubuh (Sapto, 2001)

C.     Gangguan Yang Terjadi Pada Kelenjar Medula Adrenal
Gangguan kelenjar adrenal adalah kondisi yang mengganggu fungsi normal dari kelenjar adrenal. Mereka dicirikan oleh adrenal insufficiencies, di mana terdapat kekurangan dalam ketersediaan steroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Gangguan kelenjar adrenal menantang untuk mendiagnosis, tetapi jika tidak diobati, mengancam kehidupan mereka. Adapun gangguan yang terdapat pada kelenjar medula adrenal :
1.      Hipersekresi Kelenjar Medula Adrenal
Berbagai gejala negatif pada aktivitas atau metabolisme organ tubuh karena pengaruh epinefrin bisa disebabkan karena sekresi yang berlebihan.
a.       Masalah yang timbul akibat hipersekresi kelenjar medula adrenal
1.      Palpitasi
Merupakan gejala abnormal pada kesadaran detak jantung, bisa terlalu lambat, terlalu cepat, tidak beraturan, atau berada dalam frekuensi normal. Gejala ini disebabkan akibat sekresi epinefrin yang berlebihan. Tapi bisa juga karena konsumsi alkohol, kafein, kokain, amfetamin, atau obat-obatan yang lain, penyakit (seperti hipertiroidisme), atau efek panik.
2.      Tachychardia
Peningkatan kecepatan aktivitas jantung. Kelainan endokrin seperti feokromositoma dapat menyebabkan pelepasan epinefrin dan tachychardia bebas dari sistem syaraf.

3.      Arrhythmia
Keadaan abnormal pada aktivitas elektrik jantung. Jantung bisa berdetak lebih cepat atau sebaliknya malah lebih lambat. Sama seperti palpitasi, kelainan ini dipicu oleh sekresi epinefrin yang berlebihan.
4.      Sakit kepala
Kondisi sakit pada kepala, pada bagian leher ke atas. Umumnya disebabkan oleh ketegangan, migrain, ketegangan mata, dehidrasi, gula darah rendah dan sinusitis. Beberapa sakit kepala juga karena kondisi ancaman hidup seperti meningitis, ensephalatis, aneuisme cerebral, tekanan darah sangat tinggi, dan tumor otak.
5.      Tremor
Kebanyakan tremor terjadi pada tangan. Pada beberapa orang, tremor adalah gejala kelainan saraf yang lain. Umumnya disebabkan karena masalah pada bagian otak atau spinal cord yang mengontrol otot melalui tubuh atau area tertentu, seperti tangan. Penyebabnya adalah stres yang teralu banyak sehingga sekresi epinefrin menjadi tidak terkendali
6.      Hipertensi
Merupakan suatu kondisi medis dimana tekanan darah naik secara kronis. Hipertensi adalah karakter khas dari berbagai abnormalitas kortikal adrenal.
7.      Edema paru-paru akut
Akumulasi fluida dalam paru-paru, disebabkan kegagalan jantung melepaskan fluida dari sirkulasi paru-paru, akibat disnormalitas sekresi epinefrin.
8.      Alergi
Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks  dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan pengontrol internal.Alergi dikaitkan dengan peningkatan hormone epinefrin dan progesterone. Peningkatan hormon epinefrin menimbulkan manifestasi klinis perubahan suasana hati, dan kecemasan.

9.      Kelebihan kortisol
Penyebab tersering kelebihan kortisol adalah iatrogenik, yaitu penyebab tersebut dikarenakan oleh dosisi terapeutik yang diberika untuk berbagai macam kondisi, antara lain :
·        Pengobatan inflamasi, penyakit-penyakit autoimun, dan alergi
·        Pencegahan reaksi penolakan organ transplantasi
·        Pencegahan fibrosis )pembentukan jaringan parut) yang berlebihan setelah operasi
·        Mengurangi tekanan tinggi intrakranial akut
·        Mengurani ukuran dan aktivitas jaringan limfatik

Beberapa tanda dan gejala-gejala kelebihan kortisol berkaitan dengan keadaan diabetogenik katabolik dan efek ketogenik yang ditimbulkannya.
·        Keilangan matriks tulang dan kalsium tulang
·        Penurunan intoleransi glukosa, penururnan penggunaan glukosadan peningkatan glukoneogenesis
·        Peningkatan ketogenesis dan mobilitas asam lemak
·        Peningkatan retensi natriun dan air

Kelainan-kelainan yang menjadi resiko tinggi pada penderita kelebihan kortisol antara lain :
·        Hipertensi
·        Diabetes millitus
·        Osteoporesis
·        Ulkus peptikum
·        Psikosis
10.  Kelebian Aldosteron
Tiga efek utama aldosteron adalah hipertensi, hipokalemi, hipernatremia. Hipertensi terjadi akibat peningkatan volume darah karena reabsorbsi natrium. Bersamaan dengan tertahannya natrium, kalium diekskresikan dan menyebabkan hipoklemi. Hipoklemia dapat menyebabkan hal berikut:
·        Perubahan excitabilitas membran otot, menyababkan kelemahan, parestesia, bising usus yang hipoaktif, dan refleks tendon dalam
·        Aritmia jantung, perubahan gambar EKG
·        Hilangnya kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasikan: urin encer, poliuria, dan nocturia
·        Alkalosis metabolik
·        Penekanan pelepasan renin, dan selanjutnya teradap sekresi aldosteron


b.      Pemeriksaan Penunjang
Ada beberapa pemeriksaan penunjang terkait dengan hiposekresi dan hipersekresi kelenjar medula adrenal, diantaranya:
1.      Pemeriksaan laboratorium:
a.       Kadar kortisol dan aldosteron serum
b.      Kadar ACTH serum, kadar glukosa darah
c.       Pemeriksaan leukosit
d.      Pemeriksaan elektrolit serum (Na, K, Cl), dengan nilai normal: Natrium:
310-335 mg (13,6-14 meq/liter), Kalium: 14-20 mg% (3,5-5,0 meq/liter), Klorida: 350-375 mg% (100-106 meq/liter).
e.       Pemeriksaan urine terhadap  17-OHC dan 17 ketosteroid
2.      Pemeriksaan radiologi, anteriografi, CT scan, pemeriksaan EKG, anteriogram adrenal.

2.      Hiposekresi Kelenjar Medula Adrenal
                           Disfungsi kelenjar adrenal merupakan gangguan metabolik yang menunjukkan kekurangan atau defisiensi kelenjar adrenal (Rumohorbo Hotma, 1999).
a.       Insufisiensi
                     Insufisiensi merupakan ketidakmampuan untuk mensekresi glukokortikoid, mineralokortikoid, dan androgen dapat terjadi keran atropfi, atau kerusakan pada kelenjar adrenal.
1.      Manifestasi Klinis
               Hipotensi, hiponatremia, dan hiperkalemia terlihat khas pada pasien insufisiensi adrenokortikal primer karena kekurangan mineralkortikoid. Pasien-pasien ini dapat mengalami perubahan keadaan kardiovaskuler akibat berubahnya keadaan cairan dan elektrolit. Volume darah sirkulasi yan rendah dan pengecilan ukuran jantung terjadi. Perubahan EKG dapat terjadi dengan adanya hiperkalemia.
               Sebaliknya, jika terdapat hipoplasia sekunder terhadap penurunan sekresi ACTH, biasanya hanya sekresi kortisol yang menurun. Hal ini terjadi karena ACTH memiliki pengaruh yang minimal pada sekresi aldosteron, yangs ekresinya dikontrol oleh system rennin angiotensin. Bagaimanapun juga, mungkin terdapat hiposekresi hormon hipofise lainnya.
               Gejala-gejala gastrointestinal sering kali menjadi alasan yang membawa penderita untuk berobat. Gejala-gejala insufisiensi adrenokortikal sering kali memiliki onset yang berangsur-angsur dan samar. Asthenia (kelemahan) merupakan keluhan utama, yang intensitasnya tidak sebanding dengan gejala-gejala lain.
2.      Pengobatan
Insufisiensi adrenokortikal iatrogenic terjadi karena atrofi adrenal yang di induksi oleh terapi kortikosteroid. Peningkatan kadar kortisol serum akan menghambat sekresi ACTH dan CRH, karenanya stimulasi pada sel-sel korteks adrenal berkurang. Penurunan poros Hipotalamus Hipofise Adrenal (HPA) ini dapat berlangsung lebih dari 1 tahun, jika kortikosteroid digunakan dalam dosis besar atau jika terapi dilakukan dalam waktu yang lama. Selama terjadi penekanan poros HPA, stress dapat mencetuskan insufisiensi adrenokortikal akut (krisis adrenal).
Tindakan yang dapat mengurangi penekanan poros HPA antara lain dengan pemberian kortisol dalam dosis besar di pagi hari dan dosis kecil di sore hari. Pemberian kortikosteroid secara topical menyebabkan penekanan yang lebih kecil daripada pemberian sistemik. Penghentian dosis secara bertahap sebelum menghentikan semua kortikosteroid telah dilakukan sejak dulu dengan anggapan bahwa hal ini dapat mencegah krisis adrenal, namun demikian, terlihat bahwa penekanan HPA berlangsung lama dengan cara ini.

b.      Krisis Adison (Krisis Adrenal)
Krisis adrenal merupakan suatu insufisiensi adrenal yang berat dengan eksaserbasi yang tiba-tiba. Hal ini dapat menimbulkan kematian dengan cepat jika tidak segera ditangani.
1.      Etiologi
Kejadiannya biasanya dicetuskan oleh adanya stress atau bisa karena kelenjar adrenal terkena infeksi atau oleh sebab autoimun.
2.      Manifestasi Klinis
Tanda-tanda krisis adrenal, yaitu:
·        Berkurangnya volume dan tekanan darah karena turunnya kadar Na+ dan volume air dari cairan tubuh.
·        Hipoglikemia dan turunnya daya tahan tubuh terhadap stress, sehingga penderita mudah menjadi shock dan terjadi kematian hanya karena stress kecil saja misalnya flu atau kelaparan.
·        Lesu mental dan fisik.
·        Tanda-tanda krisis adrenal antara lain, yaitu hiposekresi, shock, demam, nausea, dan vomitus, serta kebingungan.
3.      Pengobatan
Tindakan keperawatan pada pasien insufisiensi adrenokortikal meliputi:
·        Pemberian dan penyuluhan hormonal
·        Menjamin asupan makanan normal yang teratur dan adekuat untuk meningkatkan kandungan protein
·        Menjamin asupan natrium dan cairan normal (meningkat)
·        Pengelolaan hipoglikemia
·        Menghindari stress
·        Istirahat yang sering


4.                     Pathway
Gambar  : Dikutip dari Adddison crisis pathway, Widebertha`s MESSAGE
BOARD; available at :
Sumber : http://pages.zdnet.com/nana200 3/id129,html



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN HIPERSEKRESI DAN HIPOSEKRESI KELENJAR MEDULA ADRENAL

A.     Pengkajian
1.      Identitas klien
2.      Keluhan utama : pusing, sakit kepala, pucat, badan lemah, tremor, dan lesu.
3.      Riwayat kesehatan klien
Data Subjek:
a.       Kelemaan yang luas
b.      Persepsi klien terhadap perubaan gambaran tubuh
c.       Perubahan suasana hati
d.      Kemampuan untuk mentolerir stress
e.       Perlunya bantuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari
f.        Pola tidur dan makan
g.       Pengetahuan mengenai disfungsi adrenal dan terapinya
h.       Regiman terapi
i.         Adanya gejala-gejala yang tidak menyenangkan
j.        Pusing, sakit kepala
k.      Pucat, tremor, dan lesu
Data Objek:
a.       BB setiap hari
b.      Suhu dan TD setiap 4 jam
c.       Intake dan output setiap 4 jam
d.      Interritas kulit
e.       Intake makanan
f.        Tanda-tanda awal infeksi
g.       TTV: TD turun kalau terjadi hiposekresi dan naik kalau terjadi hipersekresi.
h.       Sistem pernapasan: nafas cepat, dipsnea, tidak teraba massa saat dipalpasi, tidak ada nyeri, suara resonan saat diperkusi, ronchi.
i.         Sistem kardiovaskuler:
1)      Jantung: Ictus cordis teraba pada ICS 5 mid klavikula, terdengar suara redup atau dullness, suara jantung melemah
2)      Capilarry Refill Time (CRT): hiposekresi >3 dtk, hipersekresi <3dtk
j.        Sistem pencernaan:
1)      mulut dan kerongkongan: mukosa kering
2)      abdomen: terasa lembut atau keras, kram perut
3)      anus: tidak terdapat iritasi
4)      pola nutrisi: nausea, muntah, anoreksia berat, mual, muntah, BB menurun dengan cepat
5)      pola eliminasi (BAB): konstipasi atau diare
k.      Sistem perkemihan (BAK): diuresis yang diikuti oliguria (hiposekresi)
l.         Sistem integumen: turgor kulit jelek, membran mukosa kering.

B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada hipersekresi kelenjar medula adrenal
a.      Resiko Kelebihan volume cairan berhubungan dengan sekresi kortisol berlebih karena sodium dan retensi cairan
Tujuan : Klien menunjukkan keseimbangan volume cairan setelah dilakukan
tindakan keperawatan
intervensi :
1)      Ukur intake output
2)      Hindari intake cairan berlebih ketika pasien hipernatremia
3)      Ukur TTV
4)      Timbang BB klien
5)      Monitor ECG untuk abnormalitas (ketidakseimbangan elektrolit)
6)      Lakukan alih baring setiap 2 jam
7)      Kolaborasi hasil lab (elektrolit : Na, K, Cl)
8)      Kolaborasi dalam pemberian tinggi protein, tinggi potassium dan rendah sodium

b.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot dan perubahan metabolisme protein
Tujuan : Klien menunjukkan aktifitaskembali normal setelah dilakukan tindakan keperawatan
Intervensi :
1)      Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas
2)      Tingkatkan tirah baring / duduk
3)      Catat adanya respon terhadap aktivitas seperti: takikardi, dispnea, fatique
4)      Tingkatkan keterlibatan pasien dalam beraktivitas sesuai kemampuannya
5)      Berikan bantuan aktivitas sesuai dengan kebutuhan
6)      Berikan aktivitas hiburan yang tepat seperti : menonton TV dan mendengarkan radio

c.       Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan respon imun, respon imflamasi
Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan intervensi
Intervensi :
1)      Kaji tanda-tanda infeksi
2)      Ukur TTV setiap 8 jam
3)      Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan
4)      Batasi pengunjung
5)      Tempatkan klien pada ruang isolasi sesuai indikasi
6)      Pemberian antibiotik sesuai indikasi
7)      Pemeriksaan lab (Leukosit)
2.      Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada hiposekresi kelenjar medula adrenal
a.       Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kekurangan natrium dan kehilangan cairan melalui ginjal, kelenjar keringat, saluran gastrointestinal (karena kekurangan aldosteron)
Tujuan : Klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit  setelah dilakukan tindakan
Intervensi :
1)      Pantau TTV, catat perubahan tekanan darah pada perubahan posisi, kekuatan dari nadi perifer
2)      Kaji pasien mengenai ada rasa haus, kelelahan, nadi cepat, pengisian kapiler memanjang, turgor kulit jelek, membran mukosa kering.
3)      Periksa adanya perubahan status mental dan sensori.
4)      Aukultasi bising usus (peristaltik usus). Catat dan laporkan adanya mual, muntah, dan diare.
5)      Berikan cairan, antara lain:
·     Cairan NaCl 0,9%
·     Larutan glukosa
6)      Berikan obat sesuai dosis; Mineral kortikoid, fludokortison, deoksikortikosteron 25-30mg/hari peroral
7)      Pantau hasil laboratorium
·        Hematokrit (Ht)
·        Ureum atau kreatinin
·        Kalium
b.      Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake tidak adekuat (mual, muntah, anoreksia) defisiensi glukortikoid
Tujuan : kebutuhan nutrisi klien kembali adekuat setelah dilakukan tindakan intervensi
Intervensi :
1)      Aukultasi bising usus dan kaji apakah ada nyeri perut, mual atau muntah
2)      catat adanya kulit yang dingin atau basah, perubahan tingkat kesadaran, nadi yang cepat, nyeri kepal, sempoyongan
3)      Pantau pemasukan makanan dan timbang BB tiap hari
4)      Berikan atau Bantu perawatan mulut
5)      Berikan lingkungan yang nyaman untuk makna contoh bebas dari bau tidak sedap, tidak terlalu ramai
6)      Berikan glukosa intravena dan obat obatan sesuai indikasi seperti glukokortikoid
c.        Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan produksi metabolime ketidak seimbangan cairan elektrolit dan glukosa
Tujuan : Aktivitas klien kembali adekuat setelah dilakukan tindakan
Intervensi :
1)      kaji tingkat kelemahan klien dan identifikasi aktifitas yang dapat dilakukan oleh klien
2)      Pantau TTV sebelum dan sesudah melakukan aktivitas
3)      Sarankan pasien untuk menentukan masa atau periode antara istirahat dan melakukan aktivitas
4)      Diskusikan cara untuk menghemat tenaga misal: duduk lebih baik daripada berdiri selama melakukan aktifitas
5)      Tingkatkan keterlibatan pasien dalam beraktivitas sesuai kemampuannya














BAB IV
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Kelenjar Adrenal atau Kelenjar Suprarenalis terletak diatas kedua ginjal. Ukurannya berbeda-beda, beratnya 5-9 gram. Kelenjar adrenal ini terbagi atas 2 bagian, yaitu korteks adrenal yang menghasilkan kortisol, aldosteron dan androgen, dan medula adrenal yang menghasilkan katekolamin yang mana di dalamnya terdapat epinephrine dan nonepinephrine (Sapto, 2001)
Hiposekresi kelenjar medula adrenal berupa insufisiensi dan krisis adison (krisis adrenal). Sedangkan hipersekresi kelenjar medula adrenal, palpitasi, tachychardia, arrhythmia, sakit kepala, tremor, hipertensi, edema paru-paru akut, dan alergi.
Pemberian asuhan keperawatan penderita kelainan fungsi kelenjar medula adrenal difokuskan pada upaya pencegahan terhadap terjadinya komplikasi yang berlanjut selama proses pemulihan fisik klien. Penentuan diagnosa harus akurat agar pelaksanaan asuhan keperawatan dapat diberikan secara maksimal dan mendapatkan hasil yang diharapkan. Pemberian asuhan keperawatan kepada klien penderita kelainan fungsi kelenjar medula adrenal secara umum bertujuan untuk menormalkan sekresi pada medula adrenal dengan menurunkan pencetus atau tingkat stres seseorang. Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas dan keahlian dalam pemberian asuhan keperawatan dan kolaborasikan dengan tim medis lainnya yang bersangkutan (Black, 2009)

B.     Saran
1.      Bagi perawat yang akan memberikan asuhan keperawatan dengan klien dengan gangguan fungsi sistem endokrin harus lebih memperhatikan dan tahu pada bagian-bagian mana saja dari asuhan keperawatan pada klien dengn gangguan ini yang perlu ditekankan.
2.      Untuk pasien semestinya harus lebih tanggap terhadap pengkajian-pengkajian yang dilakukan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya dalam asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan fungsi sistem endokrin, karena peningkatan penyembuhan pasien, melakukan prosedur diagnostik, pemeriksaan-pemeriksaan dan melakukan perawatan tindak lanjut sangat penting bagi pasien maupun perawat.
3.      Hendaknya mahasiswa keperawatan dapat menerapkan dan membandingkan ilmu yang telah didapat di kampus berupa teori dengan kasus di ruangan, yang nantinya mahasiswa mampu mengaplikasikan tindakan keperawatan dengan sebaik-baiknya.


























DAFTAR PUSTAKA
Harnowo, Sapto. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: widya Medika
Hudak, Karolin M. 1996. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Jakarta: EGC
Si. Long, Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
                  Keperawatan Padjadjaran: Bandung.
Black, Joyce M. 2009. Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positif Outcomese
                  Eight Edition Vol I (Singapore) Elservier Pte LTd
Doenges, Marilyin. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC: Jakarta.
Syaifuddin. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. EGC: Jakarta.
Wikipedia. 2011. Gangguan Kelenjar Adrenal (Online). (http://www.wikipedia.com, diakses 11 Maret 2011)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar