Jumat, 16 September 2011

askep empiema

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Empiema merupakan komplikasi yang paling sering dari pneumonia pneumokokus, yang terjadi sekitar 2 % dari semua kasus. Meskipun telah ada antibiotik yang potensial, pneumonia bakterial masih menyebabkan morbiditas dan mortalitas di Amerika. Setiap tahun angka kejadian pneumonia bakterial diperkirakan sekitar 4 juta dengan rata-rata 20 % membutuhkan perawatan di rumah sakit. Karena sebanyak 40 % penderita yang dirawat di rumah sakit dengan pneumonia bekterial memiliki efusi pleura. Efusi terjadi akibat pneumonia merupakan persentase yang besar dari efusi pleura. Angka morbiditas dan mortalitas pada penderita pneumonia yang disertai efusi pleura lebih tinggi daripada penderita yang hanya menderita pneumonia saja.
Terdapat 91 kematian di rumah sakit di Indonesia, penyebab utamanya adalah infeksi bakteri parah (49,5%), diare (13,2%), dan kurang gizi (7,7%). Pneumonia atau empiema sebanyak 29 kematian di rumah sakit pada kelompok kotri dan 39 persen pada kelompok plasebo. Apabila penerimaan di rumah sakit dipertimbangkan berdasarkan penyebabnya, pneumonia/empiema adalah yang paling utama, baik secara tunggal atau bersamaan dengan TB, malaria, dan kurang gizi. Bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonela adalah bakteri yang paling sering ditemukan dari biakan darah.
Meskipun tidak diketahui kapan sebenarnya emfiema dimulai, namun tampaknya terjadi dalam beberapa tahun antara perubahan patofisiologi awal dan onset timbulnya gejala. Karena secara klinik tidak mungkin untuk menentukan apakah pasien menderita bronkitis kronis atau emfiema, dan pasien biasanya memiliki beberapa keadaan yang ada pada keduanya, kriterianya akan ditampilkan pada pembahasan mengenai asuhan keperawatan empiema.

1.2.Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebgai berikut:
1.      Meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang konsep dasar penyakit empiema.
2.      Meningkatkan pengetahuan mengenai etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan yang harus dilakukan pada penderita empiema.
3.      Memberikan gambaran asuhan keperawatan secara teoritis kepada klien yang menderita empiema.
4.      Memenuhi tugas Mata Kuliah KMB I.

1.3. Ruang Lingkup Penulisan
Pada makalah ini, penyusun membatasi ruang lingkup penulisan yaitu Konsep Dasar dan Asuhan Keperawatan pada Penderita Empiema.

1.4. Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan metode deskriftif yaitu dengan menggambarkan konsep dasar dari penyakit empiema dan asuhan keperawatannya dengan literatur yang diperoleh dari buku-buku perpustakaan, internet, dan diskusi dari kelompok.

1.5. Sistematika Penulisan
Penyusunan makalah ini terdiri dari IV (empat) bab yang disusun secara sistematis. Adapun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I         :  Pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II        :  Landasan teoritis, yang terdiri dari anatomi dan fisiologi sistem pernapasan, konsep dasar empiema, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan diagnostik, dan penatalaksanaan.
BAB III       :  Asuhan keperawatan, yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, dan evaluasi.
BAB IV      :  Penutup, yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
























BAB 2
LANDASAN TEORITIS

2.1  Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan
1.      Pengertian
Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup dan aktivitas berbagai organ atau sel. Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi terdiri atas saluran pernapasan bagian atas, bawah, dan paru.
a.       Saluran Pernapasan Bagian Atas
Saluran pernapasan atas berfungsi menyaring, menghangatkan, dan melembabkan udara yang terhirup. Saluran pernapasan terdiri dari:
1)      Hidung. Hidung terdiri atas nares anterior (saluran dalam lubang hidung) yang memuat kelenjar sebaseus dengan ditutupi bulu yang kasar dan bermuara ke rongga hidung dan rongga hidung yang dilapisi oleh selaput lendir yang mengandung pembuluh darah. Proses oksigenasi diawali dengan penyaringan udara yang masuk melalui hidung oleh bulu yang ada dalam vestibulum (bagian rongga hidung), kemudian dihangatkan serta dilembabkan.
2)      Faring. Faring merupakan pipa yang memiliki otot, memanjang dari dasar tenggorok sampai esophagus yang terletak di belakang nasofaring (di belakang hidung), di belakang mulut (orofaring), dan di belakang laring (laringofaring).
3)      Laring (Tenggorokan). Laring merupakan saluran pernapasan setelah faring yang terdiri atas bagian dari tulang rawan yang diikat bersama ligamen dan membran, terdiri atas dua lamina yang bersambung di garis tengah.

4)      Epiglotis. Epiglotis merupakan katup tulang rawan yang bertugas membantu menutup laring pada saat proses menelan.

b.      Saluran Pernapasan Bagian Bawah
Saluran pernapasan bagian bawah berfungsi mengalirkan udara dan menghasilkan surfaktan. Saluran ini terdiri dari:
1)      Trakea. Trakea atau disebut sebagai batang tenggorok, memiliki panjang ± 9 cm yang dimulai dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis kelima. Trakea tersusun atas 16-20 lingkaran tidak lengkap berupa cincin, dilapisi selaput lendir yang terdiri atas epithelium bersilia yang dapat mengeluarkan debu atau benda asing.
2)      Bronkus. Bronkus merupakan bentuk percabangan atau kelanjutan dari trakea yang terdiri atas dua percabangan kanan dan kiri. Bagian kanan lebih pendek dan lebar daripada bagian kiri yang memiliki 3 lobus atas, tengah, dan bawah, sedangkan bronkus kiri lebih panjang dari bagian kanan yang berjalan dari lobus atas ke bawah.
3)      Bronkiolus. Bronkiolus merupakan saluran percabangan setelah bronkus.
4)      Alveolus. Alveolus itu terdiri atas satu lapis tunggal sel epithelium pipih, dan disinilah darah hampir langsung bersentuhan dengan udara. Suatu jaringan pembuluh darah kapiler mengitari alveolus dan pertukaran gas pun terjadi.

c.       Paru
Paru merupakan organ utama dalam sistem pernapasan. Paru terletak dalam rongga thoraks setinggi tulang selangka sampai dengan diafragma. Paru terdiri atas beberapa lobus yang diselaputi oleh pleura parietalis dan pleura viseralis, serta dilindungi oleh cairan pleura yang berisi cairan surfaktan.
Paru sebagai alat pernapasan utama terdiri atas dua bagian, yaitu paru kanan dan kiri. Pada bagian tengah organ ini terdapat organ jantung beserta pembuluh darah yang berbentuk kerucut, dengan bagian puncak disebut apeks. Paru memiliki jaringan yang bersifat elastis, berpori, serta berfungsi sebagai tempat pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida.

2.      Proses Oksigenasi
Proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi tubuh terdiri dari tiga tahap, yaitu ventilasi, difusi gas, dan transportasi gas/perfusi.
a.       Ventilasi
Ventilasi merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Ada dua gerakan pernapasan yang terjadi sewaktu pernapasan, yaitu inspirasi dan ekspirasi. Inspirasi atau menarik napas adalah proses aktif yang diselenggarakan oleh kerja otot. Kontraksi diafragma meluaskan rongga dada dari atas sampai ke bawah, yaitu vertikal. Penaikan iga-iga dan sternum meluaskan rongga dada ke kedua sisi dan dari depan ke belakang. Pada ekspirasi, udara dipaksa keluar oleh pengendoran otot dan karena paru-paru kempis kembali, disebabkan sifat elastik paru-paru itu. Gerakan-gerakan ini adalah proses pasif.
 Proses ventilasi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, adanya kemampuan thoraks dan paru pada alveoli dalam melaksanakan ekspansi, refleks batuk dan muntah.
b.      Difusi gas
Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen di alveoli dengan kapiler paru dan CO2 di kapiler dengan alveoli. Proses pertukaran  dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu luasnya permukaan paru, tebal membran respirasi, dan perbedaan tekanan dan konsentrasi O2.
c.       Transportasi gas
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian O2 kapiler ke jaringan tubuh dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler. Transportasi gas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu curah jantung (kardiak output), kondisi pembuluh darah, latihan (exercise), eritrosit dan Hb.

2.2  Konsep Dasar Empiema
1.      Definisi
Ada beberapa pengertian mengenai empiema, yaitu:
a.       Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah (pus) didalam ronggga pleura dapat setempat atau mengisi seluruh rongga pleura (Ngastiyah, 1997).
b.      Empiema adalah penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada cavitas pleura (Baughman, 2000).
c.       Empiema adalah penumpukan materi purulen pada areal pleural (Hudak & Gallo, 1997)

(sumber: www.medicastore.com, 2008)
Secara garis besar, empiema adalah suatu efusi pleura eksudat yang disebabkan oleh infeksi langsung pada rongga pleura yang menyebabkan cairan pleura menjadi purulen atau keruh. Pada empiema terdapat cairan pleura yang mana pada kultur dijumpai bakteri atau sel darah putih > 15.000 / mm3 dan protein > 3 gr/ dL.

2.      Etiologi
Sebelum antibiotik berkembang, pneumokokus (Streptococus pneumoniae) dan Streptococus b hemolyticus (Sterptococus pyogenes) adalah penyebab empiema yang terbesar di bandingkan sekarang. Basil gram negatif seperti Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Proteus species dan Klebsiella pneumoniae merupakan grup yang terbesar dan hampir 30 % dijumpai pada hasil isolasi setelah berkurangnya kejadian empiema sebagai komplikasi pneumonia pneumokokus.
Staphylococcus aureus merupakan organisme penyebab infeksi yang paling sering menyebabkan empiema pada anak-anak, terutama pada bayi sekitar 92 % empiema pada anak-anak di bawah 2 tahun. Bakteri gram negatif yang lain Haemophilus influenzae adalah penyebab empiema pada anak-anak.
Empiema juga dapat disebabkan organisme yang lain seperti empiema tuberkulosis yang sekarang jarang dijumpai pada negara berkembang. Empiema jarang disebabkan oleh jamur, terutama pada penderita yang mengalami penurunan daya tahan tubuh (Immunocompromised). Aspergillus species dapat menginfeksi rongga pleura dan dapat menyebabkan empiema dan ini terkadang terjadi pada penderita yang mengalami penurunan daya tahan tubuh yang dapat menyebabkan penyakit paru-paru dan pleura yang serius walaupun jarang.



Untuk terjadinya infeksi paru-paru, kuman pathogen harus dapat melewati saluran pernapasan bawah. Kebanyakan orang dewasa telah memiliki antibodi untuk beberapa jenis virus yang umum, dan kebanyakan infeksi virus bersifat ringan.

3.      Patofisiologi
Infeksi paru dapat menyebabkan terjadinya empiema. Infeksi adalah komplikasi yang paling sering terjadi. Sumber infeksi yang paling jarang termasuk sepsis abdomen, yang mana pertama sekali dapat membentuk abses subfrenik sebelum menyebar ke rongga pleura melalui aliran getah bening. Abses hati yang disebabkan Entamoeba histolytica mungkin juga terlibat dan infeksi pada faring, tulang thoraks atau dinding thoraks dapat menyebar ke pleura, baik secara langsung maupun melalui jaringan mediastinum.

(Sumber: New Bitmap Image, 2007)

Pleura dan rongga pleura dapat menjadi tempat sejumlah gangguan yang dapat menghambat pengembangan paru atau alveolus atau keduanya. Reaksi ini dapat disebabkan oleh penekanan pada paru akibat penimbunan udara, cairan, darah atau nanah dalam rongga pleura. Penimbunan eksudat disebabkan oleh peradangan atau keganasan pleura, dan akibat peningkatan permeabelitas kapiler atau gangguan absorbsi getah bening. Eksudat dan transudat dibedakan dari kadar protein yang dikandungnya dan berat jenis. Transudat mempunyai berat jenis <1,015 dan kadar proteinnya kurang dari 3%; eksudat mempunyai berat jenis dan kadar protein lebih tinggi, karena banyak mengandung sel. Penimbunan cairan dalam rongga pleura disebut efusi pleura.
Infeksi oleh organisme-organisme patogen menyebabkan jaringan ikat pada membran pleura menjadi edema dan menghasilkan suatu eksudasi cairan yang mengandung protein yang mengisi rongga pleura yang dinamakan pus atau nanah. Jika efusi mengandung nanah, keadaan ini disebut empiema.

4.      Manifestasi Klinis
Sesak napas adalah gejala yang paling utama. Pada empiema gejala lain yang timbul adalah panas, menggigil, dan penurunan berat badan. Gejala empiema yang timbul tergantung dari terbentuknya atau tidaknya fistula ke bronkus, yakni berupa fistula bronkopleura. Bila tidak terjadi fistula, maka gejalanya akan tetap berat, sementara itu apabila telah terjadi fistula maka gejalanya akan lebih ringan.
Adapun gejala klinis yang dapat timbul adalah sebagai berikut, antara lain:
a.       Sering dijumpai demam
b.      Malaise dan kehilangan berat badan pada empiema kronis
c.       Penderita sering mengeluh adanya nyeri pleura (Pleuritic pain)
d.      Dispnea dapat disebabkan akibat kompresi atau penekanan pada paru-paru oleh cairan empiema
e.       Batuk sering dijumpai dan adanya fistula bronkopleural yang disertai dengan sputum yang purulen yang dapat dibatukkan.
5.      Komplikasi
Secara umum, empiema bisa merupakan komplikasi dari: Pneumonia, infeksi pada cedera di dada, pembedahan dada, pecahnya kerongkongan, dan abses di perut.
Adapun komplikasi secara khusus yang dapat timbul dari empiema adalah sebagai berikut:
a.       Bula yang terbesar terbentuk karena bersatunya alveoli yang pecah sehingga dapat memperburuk fungsi dari pernapasan.
b.      Pneumotoraks yang disebabkan oleh karena pecahnya bula kadang-kadang dapat berubah menjadi ventil pneumotoraks.
c.       Kagagalan pernapasan dank or pulmonale merupakan komplikasi terakhir dari empiema. Kematian justru terjadi setelah terjadinya kegagalan pernapasan. Pada tipe pink puffer, walaupun pasien tampak sangat sesak akan terapi O2 dan CO2 darah masih dalam batas normal.
d.      Terjadinya penurunan berat badan yang hebat, terutama pada usia muda.
e.       Infeksi pleura mengarah ke sepsis, perlu diadakan evaluasi pepsis secara menyeluruh, misalnya foto dada.
f.        Sepsis, yang mana pertama sekali dapat membentuk abses subfrenik sebelum menyebar ke rongga pleura melalui aliran getah bening

6.      Pemeriksaan Diagnostik
Pada pemeriksaan fisik, dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernapasan dan suara pernapasan terdengar ronchi. Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut:
a.       Rontgen dada/foto thoraks
Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. Dengan foto thoraks posisi lateral dekubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura sebanyak paling sedikit 50 ml, sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak cairan dalam rongga pleura sebanya 300 ml.
b.      CT scan dada
CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor.
c.       USG dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.
d.      Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).
e.       Biopsi
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa. Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan.
f.        Analisa cairan pleura
g.      Bronkoskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul.

7.      Penatalaksanaan
Sasaran penatalaksanaan adalah mengalirkan cavitas pleura hingga mencapai ekspansi paru yang optimal. Dicapai dengan drainase yang adekuat, antibiotika (dosis besar ) dan atau streptokinase.
Drainase cairan pleura atau pus tergantung pada tahapan penyakit dengan :
a.       Aspirasi jarum ( Thorasentesis ),jika cairan tidak terlalu kental.
b.      Drainase tertutup dengan WSD (Underwater seal), indikasi bila nanah sangat kental, pnemothoraks.
c.       Drainase dada terbuka untuk mengeluarkan pus pleural yang mengental dan debris serta mesekresi jaringan pulmonal yang mendasari penyakit.
d.      Dekortikasi, jika imflamasi telah bertahan lama.
e.       Pengobatan. Obat golongan antibiotik yang dipakai adalah Klindamisin dengan dosis 3x600 mg IV, lalu 4x300 mg oral/hari. Obat injeksi diganti oral jika kondisi klien tidak panas lagi dan merasa baikan. Atau penggunaan kombinasi obat yang sama efektifnya dengan Klindamisin adalah Penicilin 12-18 juta unit/hari + metronidazol 2 gram/hari selama 10 hari.
Gambar: Thorasentesis





BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian
1.      Keluhan
Adapun data-data keluhan yang dapat dijadikan dasar dalam pengkajian adalah sebagai berikut:
a.       Data Subjektif
1)      Lamanya gejala (sesak, napas cepat, mendengkur)
2)      Tindakan yang dilakukan di rumah untuk memperbaiki pernapasan
3)      Penggunaan oksigen di rumah sepanjang siang atau selama tidur
4)      Pengobatan yang dipakai dalam menghilangkan gejala
5)      Riwayat merokok
b.      Data Objektif dan Data Fokus
1)      Inspeksi: Respirasi cepat, batuk, dada tampak lebih cembung, tampak meringis dan sesak, barrel chest.
2)      Palpasi: pengurangan pengembangan dada, penurunan taktil fremitus
3)      Perkusi: diafragma bergerak hanya sedikit, suara ketok sisi sakit redup (dullness)
4)      Auskultasi: suara pernapasan menunjukkan intensitas yang rendah, biasanya ekspirasi memanjang, vocal fremitus menurun, suara pernapasan tambahan kadang-kadang terdengar sonor dan atau ronchi, rale halus pada akhir inspirasi.

2.      Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang berhubungan dengan empiema adalah sebagai berikut:


a.       Pola aktivitas/istirahat
Data       : keletihan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas, ketidakmampuan untuk tidur.
Tanda     : keletihan, gelisah, insomnia, lemah.
b.      Sirkulasi
Data       : tampak lemah, jantung berdebar-debar.
Tanda     : peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung, pucat.
c.       Pola hygiene
Data       : penurunan kemampuan/peningkatan aktivitas sehari-hari.
Tanda     : kebersihan buruk, bau badan.
d.      Pola nutrisi
Data       : mual, muntah, nafsu makan buruk, penurunan berat badan.
Tanda     : turgor kulit buruk, edema, berkeringat.
e.       Rasa nyaman
Data       : nyeri, sesak.
Tanda     : gelisah, meringis.
f.        Keadaan fisik
Data       : badan terasa panas, pusing.
Tanda     : suhu, nadi, nafas, dan tekanan darah meningkat, hipertermia.

3.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Pemeriksaan Radiologis
1)      Cairan pleura bebas dapat terlihat sebagai gambaran tumpul di sudut kostofrenikus pada posisi posteroanterior atau lateral.
2)      Organ-organ mediastinum terlihat terdorong ke sisi yang berlawanan dengan efusi.


b.      Pemeriksaan Ultrasonografi
1)      Pemeriksaan dapat menunjukkan adanya septa atau sekat pada suatu empiema yang terlokalisir.
2)      Pemeriksaan ini juga dapat membantu untuk menentukan letak empiema yang perlu dilakukan aspirasi atau pemasangan pipa drain.
c.       Pemeriksaan CT scan
1)      Pemeriksaan CT scan dapat menunjukkan adanya suatu penebalan dari pleura.

3.2.Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
Berikut daftar diagnosa keperawatan:
Masalah
Etiologi
a.       Bersihan jalan nafas tidak efektif

b.      Risiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh.
c.       Gangguan rasa nyaman: nyeri.
d.      Resiko tinggi trauma/henti napas


e.       Nyeri dada


f.        Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
g.       Kurang pengetahuan orang tua tentang perawatan klien
h.       PK: Sepsis.
a.       Peningkatan secret terhadap infeksi pada rongga pleura.
b.      Intake nutrisi yang tidak adekuat.

c.       Infeksi pada paru.
d.      Proses cidera, system drainase dada, kurang pendidikan keamanan/pencegahan.
e.       Faktor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada).
f.        Proses infeksi.

g.       Kurangnya informasi.

Diagnosa keperawatan ditentukan berdasarkan pengakajian atas data-data yang dikaji dari pasien. Diagnosa keperawatan yang mungkian bagi penderita emfiseima pulmunal dapat berupa, namun terbatas pada, hal berikut:
1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret terhadap infeksi pada rongga pleura.
Data: secara verbal menyatakan kesulitan bernapas, penggunaan otot bantu penapasan, mengi (+), ronchi(+), batuk (menetap) dengan sputum, serta pernapasan meningkat
Kriteria hasil: Pertahankan jalan napas dengan bunyi napas bersih, mengi (-), ronchi(-), RR normal, tidak menggunakan otot bantu nafas, menunjukkan perilaku batuk efektif dan mengeluarkan sekret: dapat melakukan batuk efektif dan mengeluarkan sekret.

Intervensi
Rasional
·        Berikan terapi oksigen.


·        Anjurkan klien minum air hangat.
·        Ajarkan metode batuk efektif dan terkontrol.
·        Lakukan terapi fisik dada seperti clapping, vibrating, batuk efektif.
·        Berikan terapi nebulizing dengan mucolitik (bisolvon, ventolin)
·        Lakukan pengisapan (suction) jika tidak ada komplikasi.
·        Lakukan evaluasi auskultasi bunyi napas catat adanya bunyi napas, kaji dan pantau suara pernapasan.

·        Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antibiotik (penicillin, sefalosporin)
·        Mempertahankan, memperbaiki, dan meningkatkan konsentrasi oksigen darah.
·        Mengencerkan secret atau sputum.
·        Batuk tidak terkontrol akan melelahkan klien.
·        Membantu pengeluaran sekret dari area paru bagian bawah.
·        Membantu mengeluarkan sekret dari jalan napas bagian atas.
·        Membuang secret yang mengganggu pernapasan.
·        Untuk mengetahui adanya obstruksi jalan napas, tachipneu merupakan derajat yan ditemukan adanya proses infeksi akut.
·        Menurunkan risiko infeksi dan pengenceran secret atau sputum pada saluran pernafasan.


2.      Risiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat.
Data: Penurunan berat badan, intake makanan dan minuman menurun, mengatakan tidak nafsu makan. mual, muntah.
Kriteria hasil: Menunjukkan peningkatan berat badan, intake makanan dan cairan adekuat dan nafsu makan meningkat.

Intervensi
Rasional
·        Observasi intake dan output/8 jam. Jumlah makanan dikonsumsi tiap hari dan timbang BB tiap hari.
·        Anjurkan klien makan dalam porsi kecil dan sering.
·        Hindari makan yang mengandung gas.


·        Timbang berat badan sesuai indikasi.



·        Kolaborasi dengan ahli gizi / nutrisi dalam pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein.
·        Mengidentifikasi adanya kemajuan/ penyimpanan dari tujuan yang diharapkan.
·        Peningkatan pemenuhan kebutuhan dan kebutuhan pertahanan tubuh.
·        Dapat menghasilakan distensi abdomen yang menganggu napas abdomen dan gerakan diagframa yang dapat meningkatan dispnea.
·        Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat badan dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
·        Metode makan dan kebutuhan dengan upaya kalori didasarkan pada kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal dengan upaya minimal pasien /penggunaan energi.

3.      PK: Sepsis
Data: Takipnue, bernapas menggunakan otot bantu napas, tampak sesak.
Kriteria hasil: Takipnue (-), tampak tenang, bernapas normal.

Intervensi
Rasional
·        Pantau tanda dan gejala septikemia:
a.       Suhu: >380C atau <360C
b.      Frekuensi jantung: >90x/menit
c.       Frekuensi pernapasan: >20x/menit
·        Pantau terhadap perubahan mental: kelemahan, malaise, atau anoreksia.
·        Evaluasi status frekuensi pernapasan.
·        Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antibiotik (Klindamisin)
·        Kolaborasi dengan tim medis dalam pemeriksaan kultur sputum, kultur cairan thorasentesis.
·        Mengetahui keadaan klien kemungkinan terjadi risiko septikemia.


·        Mengetahui dan menjaga keadaan pasien.
·        Mengetahui status pernapasan klien.

·        Mencegah terjadinya risiko infeksi.


·        Mengatasi risiko infeksi berkelanjutan.


4.      Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan infeksi pada paru.
Data: Rasa nyeri pada dada kiri, bernapas dengan rasa nyeri, tanda-tanda vital abnormal, tampak meringis.
Kriteria hasil: Mengungkapkan rasa nyeri di dada kiri berkurang, skala nyeri normal, dapat bernapas tanpa rasa nyeri, tanda vital dalam batas normal.

Intervensi
Rasional
·        Pantau nadi dan tekanan darah tiap 3–4 jam.
·        Kaji tinkat nyeri dan kemampuan adaptasi.
·        Berikan posisi semifowler.
·        Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik.
·        Evaluasi skala nyeri
·        Identifikasi kemajuan/penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
·        Memantau tingkat nyeri dan respon klien terhadap nyeri yang timbul.
·        Meningkatkan ekspansi toraks.
·        Menghilangkan rasa nyeri akibat penumpukan cairan.
·        Mengontrol nyeri dan memblok jalan rangsang nyeri.

3.3.Evaluasi
Berikut evaluasi yang dapat dilihat pada pasien yang sudah menjalankan asuhan keperawatan sesuai diagnose, yaitu sebagai berikut:
1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan sekret terhadap infeksi pada rongga pleura.
Evaluasi yang dapat diterima adalah:
a.       Data subjek:
Klien mengatakan: sudah tidak sesak.
Klien mengatakan: batuknya sudah mulai berkurang.


b.      Data objek:
Bronci (-), mengi (-), RR: 20-22 x/menit, pernapasan normal, bernaoas tidak mengunakan otot bantu napas.
2.      Risiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat.
Evaluasi yang diperoleh:
a.       Data subjek: Klien mengatakan: sudah ada nafsu makan, tidak mual, tidak muntah.
b.      Data objek: Peningkatan berat badan.
3.      PK: Sepsis
Evaluasi yang diperoleh:
Data subjek: Klien mengatakan: Tidak sesak, nyeri hilang.
Data objek: Klien tampak tenang, pernapasan tampak normal.
4.      Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan infeksi pada paru.
Evaluasi yang diperoleh:
a.       Data subjek: Klien mengatakan: Tidak nyeri saat bernapas, tidak sesak.
b.      Data objek: TTV normal, tampak tenang.












BAB 4
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Empiema adalah suatu efusi pleura eksudat yang disebabkan oleh infeksi langsung pada rongga pleura yang menyebabkan cairan pleura menjadi purulen atau keruh. Pleura dan rongga pleura dapat menjadi tempat sejumlah gangguan yang dapat menghambat pengembangan paru atau alveolus atau keduanya. Reaksi ini dapat disebabkan oleh penekanan pada paru akibat penimbunan udara, cairan, darah atau nanah dalam rongga pleura. Infeksi oleh organisme-organisme patogen menyebabkan jaringan ikat pada membran pleura menjadi edema dan menghasilkan suatu eksudasi cairan yang mengandung protein yang mengisi rongga pleura yang dinamakan pus atau nanah. Jika efusi mengandung nanah, keadaan ini disebut empiema.
Sesak napas adalah gejala yang paling utama. Pada empiema gejala lain yang timbul adalah panas, menggigil, dan penurunan berat badan. Obat golongan antibiotik yang digunakan dalam penyembuhan empiema adalah Klindamisin dengan dosis 3x600 mg IV, lalu 4x300 mg oral/hari. Obat injeksi diganti oral jika kondisi klien tidak panas lagi dan merasa baikan. Atau penggunaan kombinasi obat yang sama efektifnya dengan Klindamisin adalah Penicilin 12-18 juta unit/hari + metronidazol 2 gram/hari selama 10 hari.
Pemberian asuhan keperawatan empiema difokuskan pada upaya pencegahan terhadap terjadinya komplikasi yang berlanjut selama proses pemulihan fisik klien. Penentuan diagnosa harus akurat agar pelaksanaan asuhan keperawatan dapat diberikan secara maksimal dan mendapatkan hasil yang diharapkan. Pemberian asuhan keperawatan kepada klien penderita empiema secara umum bertujuan untuk memperlancar pernapasannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas dan keahlian dalam pemberian asuhan keperawatan dan kolaborasikan dengan tim medis lainnya yang bersangkutan.
4.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka kami selaku penulis berpesan kepada semua khusunya bagi tenaga kesehatan agar di dalam setiap tindakan keperawatan dan mendahulukan kebutuhan oksigen bagi penderita yang mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen termasuk empiema. Apabila salah dalam pengambilan keputusan maka akan berakibat fatal bagi pasien. Maka dari itu keprofesionalan seorang perawat adalah mereka yang dapat memahami kebutuhan manusia secara menyeluruh, demi pemberian asuhan keperawatan yang terbaik bagi pasien.




















DAFTAR PUSTAKA

Aziz Alimul H, A. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Buku 2. Jakarta: Penerbit PT Salemba Medika.
C. Long, Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Suatu Proses Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran.
E. Doenges, Marilyin. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.
Juall Carpenito, Lynda. 1998. Diagnosa Keperawatan . Aplikasi pada Praktik Klinis. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Pearce, Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol. 2. Jakarta: EGC
Tabrani Rab, H. 1996. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Penerbit Hipokrates.
Tamrani, Anas. 2008. Klien Gangguan Pernapasan: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.







KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum.wr.wb
Alhamdulilah hirabbil alamin, dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat dan hidayah-Nya maka dengan ini kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Penderita Empiema.
Terselesainya makalah ini berkat kerja sama dari berbagai pihak, untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada Arina Nurfianti, S. Kep, selaku dosen pembimbing kami serta rekan–rekan yang memberikan masukan dan gagasan tentang makalah yang kami susun. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah KMB I.
Kami menyadari bahwa makalah kami banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari sisi tulisan maupun sistem penulisan, maka dari itu kami mohon maaf  dan mengucapkan terima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Semoga apa yang kami sajikan pada makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Wassalammu alaikum wr. wb.

                                                                                                      Pontianak, September 2009
                                               Penyusun
i
 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar....................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................. ii
Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2. Tujuan Penulisan.................................................................................... 2
1.3. Ruang Lingkup...................................................................................... 2
1.4. Metode Penulisan.................................................................................. 2
1.5. Sistematika Penulisan............................................................................. 2
Bab 2 Tinjauan Teoritis
2.1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan.............................................. 4
2.2. Konsep Dasar Empiema....................................................................... 7
Bab 3 Asuhan Keperawatan
4.1. Pengkajian............................................................................................. 14
4.2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan.................................................... 16
4.3. Evaluasi................................................................................................. 20
Bab 4 Penutup
4.1. Keseimpulan.......................................................................................... 22
4.2. Saran.................................................................................................... 23
Daftar Pustaka







ii
 

MAKALAH KMB I
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENDERITA EMPIEMA
KELOMPOK 2




DISUSUN OLEH
1.      AGUS SUROTO
2.      ADELIA FEBRIANTI


DOSEN PEMBIMBING
ARINA NURFIANTI, S. KEP


AKADEMI KEPERAWATAN
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM
PONTIANAK
2009/2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar