Kamis, 15 September 2011

askep leukemia

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Masalah leukemia merupakan keganasan pada sel darah putih, baik meliputi jumlah/kuantitas maupun kualitas. Leukemia bermula dari kelainan sel darah putih. Sel darah putih yang abnormal ini kemudian disebut dengan sel kanker. Pada awalnya, sel kanker ini masih dapat berfungsi hampir mendekati normal, namun lama kelamaan sel kanker menjadi berkembang sangat banyak sehingga mendesak dan mengganggu fungsi sel darah yang lain. Sekitar 20-30% penderita meninggal dalam waktu 2 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis dan setelah itu sekitar 25% meninggal setiap tahunnya. Banyak penderita bertahan hidup selama 4 tahun atau lebih setelah penyakitnya terdiagnosis, tapi pada akhirnya meninggal pada fase akselerasi atau krisis blast. Angka harapan hidup rata-rata setelah krisis blast hanya 2 bulan, tetapi kemoterapi kadang bisa memperpanjang harapan hidup sampai 8-12 bulan.
Walaupun menyerang kedua jenis kelamin tetapi pria terserang sedikit lebih banyak dibanding wanita, Leukemia ada yang menyerang pada orang dewasa dan ada pula yang menyerang anak – anak dibawah 15 tahun, dengan puncak antara 2 dan 4 tahun. Walaupun penyebabnya belum diketahui namun faktor genetik, lingkungan sangat berpengaruh. Kejadian leukemia ini berbeda dari satu negara dengan negara yang lainnya, hal ini berkaitan dengan cara diagnosis dan pelaporannya. Kejadian leukemia setiap tahun sekitar 3,5 kasus dari 100.000 anak dibawah15 tahun.
Kurang pengetahuan adalah salah satu penyebab besarnya angka leukemia didunia, tidak menutup keemungkinan juga di Indonesia khususnya Kalimantan Barat. Sekitar 10 persen kasus kanker yang menyebabkan kematian anak, 2-4% diantaranya adalah leukemia. Dari sebagian besar kasus kematian akibat leukemia, terajadi pada anak dibawah 18 tahun. Leukemia yang sering dialami anak-anak adalah leukemia limfositik akut  (LLA), LLA ini pada umumnya diketahui ketika anak masih berusia balita, tapi tidak sedikit pasien yang divonis positif LLA  ketika sudah menginjak remaja.
Oleh karna itu penulis tertarik untuk mengangkat masalah tentang Leukemia, agar dapat memberi sedikit pengetahuan tentang Leukemia. Yang mana kita mengetahui bahwa masyarakat luas masih banyak yang tidak mengetahui tentang leukemia, dan kebanyakan kasus dirumah sakit pasien baru dibawa setelah pasien mencapai staduim 3 atau stadium 4.
B.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.       Meningkatkan pengetahuan tetang teori hematologi khususnya sel darah putih dan penyakit Leukemia.
2.       Untuk meningkatkan pemahaman tentang Asuhan keperawatan dengan gangguan hematologi : Leukimia
3.       Untuk memenuhi tugas mata ajar Keperwatan Medikal Bedah I

C.     Metode Penulisan
Penulisan  makalah ini dengan menggunakan metode studi kepustakaan yaitu dengan cara mencari dan membaca literatur yang ada di perpustakaan, jurnal, media internet.

D.     Ruang Lingkup
Ruang lingkup pada amakalah ini, paenulis hanya membatasi pada ”Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Leukemia” secara teoritis.

E.      Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara teoritis dan sistematis yang tediri dari 3 bab yaitu : BAB I adalah pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, ruang lingkup penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II adalah landasan teoritis yang terdiri dari anatomi fisiologi sel darah putih dan konsep dasar penyakit leukimia. BAB III adalah asuhan keperwatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperwatan dan intervensi keperawatan.
BAB II

LANDASAN TEORITIS


A.     Anatomi Fisiologi Sel Darah Putih
Leukosit ( sel darah putih ) adalah unit-unit yang dapat bergerak dalam suatu pertahanan tubuh, keadaan tubuh dan sifat – sifat leukosit berlainan dengan eritrosit dan apa bila kita periksa dan kita lihat dibawah mikroskop maka akan terlihat. Bentuknya dapat berubah – ubah dan mempunyai macam-macam inti sel sehingga ia dapat dibedakan menurut inti selnya, warnanya bening (tidak berwarna) banyaknya dalam 1 mm3 darah kira – kira 6000 – 9000
Terdapat 5 jenis Leukosit yang bersirkulasi baik yang mempunyai granula maupun tidak bergranula, yang dikenal dengan granulosit dan agranulosit. 
Macam – macam Leukosit meliputi (Agranulosit Dan Granulosit):
1.       Agranulosit
a.       Limfosit, macam Leukosit yang dihasilkan dari jaringan reticulum endothelial system dan kelenjar limfe, bentuknya ada yang kecil dan ada yang besar didalam sitoplasmanya tidak terdapat granula dan intinya besar. Berfungsi sebagai pembunuh dan pemakan bakteri yang masuk kedalam jaringan tubuh.

 





b.       Monosit, macam Leukosit yang terbanyak dibuat disumsum merah lebih besar dari pada limfosit. Dibawah mikroskop terlihat bahwa protoplasmanya lebar, warna biru dan sedikit abu – abu mempunyai bintik – bintik sedikit kemerahan., berfungsi sebagai fagosit.
 





2.      Granulosit
a.       Neutrofil, atau polimor nukleur leukosit mempunyai inti sel yang barang kali kadang– kadang seperti terpisah pisah. Protoplasmanya banyak bintik-bintik halus.
 



b.       Eusinofil, ukuran dan bentuknya hampir sama dengan neutrofil tetapi granula dan sitoplasmanya lebih besar.
c.       Basofil, sel ini kecil dari pada eusinofil tetapi mempunyai inti yang bentuknya teratur. Didalam protoplasmanya terdapat granular-granular besar.


Leukosit mempunyai 2 fungsi di dalam tubuh manusia antara lain :
  1. Sebagai serdadu tubuh yaitu bertugas membunuh dan memakan bibit penyakit / bakteri yang masuk kedalam tubuh jaringan RES ( sistem retikulo endotel ), tempat pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar limfe.
  2. Sebagai  pengangkut yaitu, mengangkut dan membawa zat lemak dari dinding usus melalui limfa terus ke pembuluh darah.


B.     Konsep Dasar  Penyakit Leukimia
1.       Pengertian
Leukimia merupakna penyakit keganasan sel darah putih yang berasal dari sumsum tulang, ditandai oleh profilerasi sel-sel darah putih, dengan manifestasi adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi. (Permono, Bambang.2005).
Leukemia adalah jenis gangguan pada sistem hematopoietic yang fatal dan terkait dengan susmsum tulang dan pembuluh limfe ditandai dengan tidak terkendalinya proliferasi dari leukosit dan prosedurnya. (Long, Barbara C. 1996).
Leukemia adalah proliperasi tidak teratur atau akumulasi sel – sel darah putih dalam sumsum tulang, menggantikan elemen – elemen sumsum normal, juga terdapat proliperasi dalam hepar, limpe, dan nodus limpe serta invasi dan organ – organ non – hemotologis. (Baugman, Diane C. 1996. Keperawatan Medikal Bedah : 336).
2.       Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat beberapa faktor predisposisi yang meyebabkan terjadinya leukimia yaitu :
1.       Faktor Genetik : Virus tertentu meyebabkan terjadinya perubahan struktur gen      ( T cell leukimia-lymphoma virus/HTLV)
2.       Radiasi ionisasi : Lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya
3.       Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik, alkylating
4.       Obat-obatan imunosipresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol.
5.       Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
6.       Kelainan kromosom : Sindrom Bloom’s, trisomi 21 (Sindrom Down’s), Trisomi G (Sindrom Klinefelter’s), sindrom fanconi’s, kromosom Philadelphia positif, Talangiektasis ataksia.
Hipotesis yang menarik saat ini mengenai etiologi kimia pada anak-anak adalah peranan infeksi virus dan atau bakteri seperti disebutkan Graves (Graves, Alexander 1993). Ia mempercayai ada dua langkah maturasi pada sistem imun. Pertama setelah kehamilan atau awal masa bayi dan kedua selama tahun pertama kehidupan sebagai konsekuensi dan respons terhadap infeksi pada umumnya..
Beberapa kondisi parenatal merupakan faktor resiko terjadinya leukimia pada anak, seperti yang dilaporkan oleh Cnattingius dkk(1995). Faktor-faktor tersebut adalah penyakit ginjal pada ibu, penggunaan suplemen oksigen, asfiksia, berat badan lahir > 4500 gram, dan hipertensi saat hamil. Sedangkan Shu dkk (1996) melaporkan bahwa ibu hamil yang mengkonsumsi alkohol meningkatkan resiko terjadinya leukimia pada bayi, terutaama LMA (Leukimia Mioblastik Akut).


3.       Klasifikasi Leukemia
Leukemia dibagi menjadi leukemia akut dan kronik. Dengan kemajuan pengobatan akhir-akhir ini, penderita leukemia limfoblastik akut dapat hidup lebih lama daripada penderita leukemia granulositik kronik. Jadi pembagian atas akut dan kronis tidak lagi mencerminkan lamanya harapan hidup. Pembagian ini masih menggambarkan kecepatan timbulnya gejala dan komplikasi.

a.       Leukemia Kronis
1.)    Leukemia Granulositik Kronis (LGK)
LGK adalah suatu penyakit mieloproliferatif yang ditandai dengan produksi berlebihan seri granulosit yang relatif matang. Walaupun manifestasi penyakit ini berupa produksi berlebihan seri mieloid tua, akhir-akhir ini banyak bukti menunjukkan bahwa LGK merupakan keganasan klonal sel pluripoten, bukan keganasan seri mieloid muda maupun mieloid yang lebih matang. Manifestasi klinis yang sering dijumpai adalah rasa lelah, penurunan berat badan, rasa penuh di perut ; kadang-kadang rasa sakit di perut, dan mudah mengalami pendarahan.
Sebagian besar penderita LGK akan meninggal setelah memasuki fase akhir yang disebut krisis blastik. Gambaran krisis blastik mirip sekali dengan leukemia akut, yaitu produksi berlebihan sel muda leukosit, biasanya berupa mieloblas dan / atau promielosit, disertai produksi neutrofil, trombosit dan sel darah merah (eritrosit) yang amat kurang.

2.)       Leukemia Limfositik Kronik (LLK)
LLK merupakan 25% dari seluruh leukemia di negara barat, tetapi amat jarang ditemukan di jepang, cina, dan indonesia. Lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada wanita (2:1) dan jarang ditemukan pada pada umur kurang dari 40 tahun. Gejala LLK berupa limfadenopati, splenomegali, hepatomegali, infiltrasi alat tubuh lain (paru, pleura, tulang, kulit), anemia hemolitik, trombositopenia, hipogamaglobulinemia dan gamopati monoklonal sehingga penderita mudah terserang infeksi.
Tingkat Penyakit
Median Survival (bulan)
0 :    hanya limfositosis dengan infiltrasi   sel
1 :    limfositosis dan limfadenopati
2 :    limfositosis dan splenomegali/hepatomegali
3 :  limfositosis dan anemia < 11 g% dengan / tanpa pembesaran hati, limpa, kelenjar.
4 : limfositosis dan trombositopenia <100.000/mm3 dengan/tanpa pembesaran hati, limpa, kelenjar.
150
101
71
19

19


b.       Leukemia Akut
1.)    Leukemia Limfoblastik Akut
Insidensi LLA 2 sampai 3 per 100.000 penduduk. Ada 24 penderita LLA yang diperiksa darah secara imunologis selama 16 bulan terakhir di Klinik Hematologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.
LLA sering ditemukan pada anak-anak (82%) dari pada umur dewasa (18%). Lebih sering ditmukan pada laki-laki dari pada wanita. Manifestasi klinis LLA yang sering dijumpai rasa lelah, panas tanpa infeksi, purpura, nyeri tulang dan sendi, macam-macam infeksi, penurunan berat badan dan sering ditemukan sutau masa abnormal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan splenomgeali (86%), hepatomegali, limfadenopati, nyeri tekan tulang dada, ekimosis, dan perdarahan retina.

2.)    Leukemia Mieloblastik Akut
LMA lebih sering ditemukan pada umur dewasa (85%) dari pada anak-anak (15%). Ditemukan lebih sering pada laki-laki dari pada wanita. Manifestasi klinis LMA adalah rasa lelah, pucat, nafsu makan hilang, anemia, petekie, perdarahan, nyeri tulang, infeksi, dan pembesarn kelenjar getah bening.
Menurut klasifikasi FAB (French-American-British), LMA dibagi dalam 6 jenis, yaitu :
M1  :  leukemia mieloblastik tanpa pematangan
M2  :  leukemia mieloblastik dengan berbagi derajat pematangan
M3  :  leukimia promielositik hipergranular
M4  : leukemia mielomonositik akut
M5  :  Leukemia monositik akut
M6  :  leukemia eritroblastik (eritro leukemia)
M7  :  leukemia megakariositik akut





4.       Patofisoiologi dan klasifikasi morfologik
Leukemia adalah jenis gangguan pada sistem hematopoietic yang fatal dan terkait dengan sumsum tulang dan pembuluh limfa di tandai dengan tidak terkendalinya proliferasi dari leukosit dan prosedirnya.
Leukimia sebenarnya merupakan suatu istilah untuk beberapa jenis penyakit yang berbeda dengan manifestasi patofisiologis yang berbeda pula. Mulai dari yang berat dengan penekanan sumsum tulang belakang yang berat pula seperti pada leukimia akut sampai kepada penyakit dengan perjalanan yang lambat dan gejala yang ringan (indolent) seperti pada leukimia kronik. Pada dasarnya efek patofisiologi berbagai macam leukimia akaut mempunyai kemiripan tetapi sangat berbeda dengan leukimia kronik.
Kelainan yang menjadi ciri khas sel leukimia diantaranya termasuk asal mula ”gugus” sel (clonal), kelainan profilerasi, kelainan sitogenetik dan morfologi, kegagalan diferensiasi, petanda sel dan perbedaan biokimiawi terhadap sel normal.
Terdapat bukti kuat bahwa leukimia akut dimulai dari sel tunggal yang berproliferasi secra klonal  sampai mencapai sejumlah populasi sel yang dapat terdeteksi. Walaupun etiologi dari leukimia pada manusia belum diketahui benar, tetapi pada penelitian mengenai proses leukemogenesis pada binatang percobaan ditemukan bahwa penyebab (agent)nya mempunyai kemampuan melakukan modifikasi pada nukleus DNA, dan kemampuan ini meningkat bila terdapat suatu kondisi (mungkin sutau kelainan) genetik tertentu seperti translokasi, amplifikasi dan mutasi onkogen seluler. Pengamatan ini menguatkan anggapan bahwa leukimia dimulai dari suatu mutasi somatik yang mengakibatkan terbentuknya ”gugus” (clone) abnormal, akibatnya dapat terjadi berbagai jenis sel leukimia. Misalnya jumlah besar dari sel pertama-tama mengumpal pada tempat asalnya ( granulosit dalam sumsum tulang, limfosit di dalam kelenjar limfe ) dan menyebar ke organ hematopoietic dan berlanjut ke organ yang lebih besar ( speinomegali, hematomegali ) proliferasi dari jenis sel sering mengganggu produksi normal hematopoietic lainnya dan mengarah ke pengembangan / pembelahan sel yang cepat dan ke cytopenias ( penurunan jumlah ). Pembelahan dari sel darah putih yang imatur mengakibatkan menurunnya imuno kompeten dengan meningkatnya kemungkinan mendapat infeksi. Leukositosis akan menghancurkan sel-sel darah sehat (eritrosit, trombosit) sehingga menyebabkan anemia, trombositopenia. Kelainan fungsi leukosit akan menurunkan kemampuan imunitas sehingga menyebabkan infeksi. (Pansitopenia). Leukositosis juga akan menyebabkan leukostasis yang nantinya akan menyumbat /trombus dan emboli vaskuler pada otak, ginjal, dan  jantung, yang mana leukositosis adalah jumlah leukosit > 11.000 IU, sedangkan leukopenia adalah jumlah leukosit <  4000 IU.

5.       Manifestasi Klinis
Gejala leukemia dibagi secara umum sesuai dengan klasifikasi leukemia (LGA, LMA, LLK, LLA), namun gejala klinis yang sering dijumpai adalah :
a.       Anemia : pucat, mudah lelah, kadang-kadang sesak nafas, Hb rendah
b.       Leukopenia (karena penurunan fungsi) : infeksi lokal atau umum (sepsis) dengan gejala suhu tubuh meningkat dan penurunan keadaan umum akibat peningkatan jumlah leukosit imatur.
c.       Trombositopenia : Perdarahan kulit, mukosa dan tempat-tempat lain epistaksis, perdarahan intrakranial, perdarahan gusi, melena.
Akibat infiltrasike organ lain :
a.       Nyeri tulang
b.       Pembesaran kelenjar getah bening (lymfadenopati)
c.       Hepatomegali dan splenomegali
(pedoman diagnosis dan terapi ilmu kesehatan anak. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr.Soetomo Surabaya, 1994).
Gejala lain seperti purpura, epistaksis (sering), hematoma, infeksi oropharingeal, pembesaran nodus limfatikus, lemah, faringitis, gejala mirip flu (flu like syndrome) yang merupakan manifestasi klinis awal, limfadenopati, ikterus kejang samapai koma (Cawson 1982 ; De Vita Jr, 1985, Archida, 1987, Lister, 1990, Rubbin, 1992).





6.          Komplikasi
Kemungkinan komplikasi pada kasus leukimia ini adalah gagal sumsum tulang, infeksi, koagulasi intravaskuler diseminata (KID/DIC), splenomegali, hepatomegali, trombositopenia, leukopenia,  perdarahan intra kranial, dan ketidak seimbangan elektrolit.  
7.       Pemeriksaan Penunjang
1.       Hitung darah lengkap : Menunjukkan normositik, anemia normositik.
2.       Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100 ml.
3.       Retikulosit : Jumlah biasanya rendah
4.       Trombosit : sangat rendah <50.000/mm.
5.       SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP imatur.
6.       PTT : memanjang
7.       LDH : mungkin meningkat
8.       Asam urat serum : mugkin meningkat
9.       Muramidase serum : pengiktan pada leukimia monositik akut dan mielomonositik.
10.   Copper serum : meningkat
11.   Zink serum : menurun
12.   Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan.
13.   Aspirasi sumsum tulang
14.   Pemeriksaan fungsi ginjal
15.   Pemeriksaan elektrolit
16.   MRI
17.   CT Scan
8.       Penatalaksanaan
Penanganan leukimia meliputi kuratif dan suportif. Penanganan suportif meliputi pengobatan peyakit lain yang menyertai leukimia dan pengobatan komplikasi antara lain berupa pemberian transfusi darah, pemberian antibiotik, pemberian obat untuk meningkatkan granulosit, obat anti jamur, pemberian nutrisi yang baik, dan pendekatam aspek psikososial.
Terapi kuratif/spesifik bertujuan untuk menyembuhkan leukimianya berupa kemoterapi yang meliputi induksi remisi, intensifikasi, profilaksis susunan saraf pusat dan rumatan. Klasifikasi resiko tinggi atau resiko normal, menentukan protokol kemoterapi. Saat ini di indonesia sudah ada 2 protokol pengobatan yang lazim digunakan untuk pasien LLA, yaitu Protokol Nasional (Jakarta) dan protokol WK-ALL 2000.
Terapi induksi berlangsung 4-6 minggu dengan dasar 3-4 kali obat yang berbeda untuk Leukemia limfositik Akut seperti deksametason, vinkristin, L-asparginase dan atau antrasiklin. Sedangkan untuk Leukemia Akut Nonlimfositik (LANL/AML) cytabarine, daunorubicine, deksametason. Kemungkinan hasil yang dapat dicapai remisi komplit,  remisi parsial, atau gagal. Intensifikasi merupakan kemoterapi intenesif tambahan setelah remisi kompilit dan untuk profilaksi leukimia pada susunan saraf pusat (SSP). Hasil yang diharapakan adalah tercapainya perpanjangan remisi dan peningkatan kualitas remisi. Terapi SSP yaitu secara langsung diberikan melalui injeksi intratekal dengan obat metotreksat, sering dikombinasikan dengan infus berulang metoterksat dosis sedang (500 mg/m2) atau dosis tinggi pusat pengobatan (3-5 gr/m2). Dibeberapa pasien resiko tinggi dengan umur > 5 tahun mungkin lebih efektif dengan memberikan radiasi cranial (18-24 Gy) disamping pemakaian kemoterapi sistemik dosis tinggi.
Terapi lanjutan rumatan dengan menggunakan obat merkaptopurin tiap hari dan metotreksat sekali seminggu (untuk ALL), secara oral dengan sitistatika lain selama perawatan tahun pertama. Lamanya terapi rumatan ini pada kebanyakan studi adlah 2-21/2 tahun dan tidak ada keuntungan jika perawatan sampai 3 tahun. Dosis sitostatika secara individual dipantau dengan melihat leukosit dan atau monitor konsentrasi obat selama terapi rumatan.
Pasien dinyatakan remisi komplit apabila tidak ada keluhan dan bebas gejala klinis leukimia, pada aspirasi sumsum tulang didapatkan jumlah sel blas < 5% dari sel berinti, hemoglobin > 12g/dl tanpa transfusi, jumlah leukosit > 3000 /ul dengan hitung jenis leukosit normal, jumlah granulosit > 2000/ul, jimlah trombosit > 100.000/ul, dan pemeriksaan cairan serebrospinal normal.
Dengan terapi intensiv moderen, remisi akan tercapai pada 98% pasien. 2-3% dari pasien anak akan meninggal dalam CCR (Continuos Complate Remission) dan 25-30% akan kambuh. Sebab utama kegagalan terapi adalah kambuhnya penyakit. Relaps sumsum tulang yang terjadi (dalam 18 bulan sesudah diagnosis) memperburuk prognosis (10-20% long-term survival) sementara relaps yang terjadi kemusian setelah penghentian terapi mempunyai prognosis lebih baik, khususnya relaps testis dimana long-term survival 50-60%. Terapi relaps harus lebih agresif untuk mengatasi resistensi obat.
Untuk Leukemia Granulositik dan Limfositik Kronis, Kemoterapi (busulfan,   hydroxiurea),  prednison,  radiasi,  pembedahan (splenektomi) cangkok sumsum tulang. Transplantasi sumsum tulang mungkin memberikan kesempatan untuk sembuh, khsusnya bagi anak-anak dengan leukimia sel-T yang telah relaps mempunyai prognosis yang buruk dengan terapi sitostatika konvensional.
Kemoterapi dengan nama lain sebagai anti tumor. Sitostatika, ataupun racun sel. Kemoterapi selain berefek terhadap sel kanker juga terhadap sel normal yang mempunyai tingkat pertumbuhan cepat, seperti folikel rambut, mukosa saluraan pencernaan, sistem reproduksi (sel indung telur, sperma), dan jaringan pembentuk darah.  Sitostatika yang diberikan akan terkumpul pada jaringan tertentu menyebabkan toksisitas (keracunan) yang khas dengan akibat kerusakan serius pada orang tersebut. Apabila toksisitas terlalu berat dapat mengancam kehidupan sehingga meninggal. Obat ini juga bersifat toksis pada beberapa organ seperti jantung, hati, ginjal dan sistem syaraf. Toksisitas dini terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah diberikannnya terapi dan biasanya berkaitan dengan pengaruh sitotoksik pada sel-sel yang aktif membelah diri pada sumsum tulang, epitel saluran cerna, kulit dan rambut.
Efek lambat berlangsung selang beberapa minggu, bulan, atau tahun dan lebih menyerang organ-organ tertentu seperti jantung, paru-paru, ginjal dan sebagainya. Beberpa jenis toksisitas terjadi apabila pasien terpapar berulang kali atau menerima dosis kumulatif.
Komplikasi agen kemoterapi yang paling sering membahayakan jiwa adalah supresi sumsum tulang yang ditandai dengan trombositopenia, anemia, leukopenia. Kebanyakan agen kemoterapi juga memiliki efek mukositas yang dapat terjadi pada rongga mulut sampai dengan rektum. Umumnya terjadi pada hari ke-5 samap 7 setelah kemoterapi.







































BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

a.       Pengkajian
1.       Aktivitas
Gejala         :  Kelemahan, malaise, kelemahan ; ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas biasanya.
Tanda         :  Kelelahan otot
                     Peningkatan kebutuhan tidur, somnolen.
2.       Sirkulasi
Gejala         :  Palpitasi
Tanda         :  Takikardi, murmur jantung.
                     Kulit, membran mukosa pucat, nadi, TD
                     Defisit saraf kranial dan atau tanda perdarahan serebral.
3.       Eliminasi
Gejala         :  Diare ; nyeri tekan perianal, nyeri.
                     Darah merah terang pada tisu, feses hitam.
                     Darah pada urin (gross hematuria), penurunan haluran urin.
4.       Integritas Ego
Gejala         :  Perasaan tidak berdaya/tidak ada harapan
Tanda         :  Depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah terangsang.
                     Perubahan alam perasaan, kacau.
5.       Makanan/cairan
Gejala         :  Kehilangan nafsu makan, anoreksia, muntah
                     Perubahan rasa/penyimpangan rasa
                     Penurunan berat badan
                     Faringitis, disfagia.


Tanda         :  Distensi abdominal, penurunan bunyi usus.
                     Splenomegali, hepatomegali; ikterik
                     Stomatitis, ulkus mulut.
                     Hipertrofi gusi
6.       Neuorosensori
Gejala         :  Kurang/penuurunan koordinasi, penurunan kesadaran, pusing
                     Perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi kurang konsentrasi.
                     Pusing; kebas, kesemutan, parastesia
Tanda         :  Otot mudah terangsang, aktivitas kejang, delirium, muntah-muntah
7.       Nyeri/kenyamanan
Gejala         :  Nyeri abdomen, sakit kepala, nyeri tulang/sendi; nyeri tekan sternal, kram otot.
Tanda         :  Perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah, fokus pada diri sendir.
8.       Pernapasan
Gejala         :  Nafas pendek dengan kerja minimal
Tanda         :  Dipsnea, takipnea, sianosis
                     Batuk
                     Gemericik, ronchi
                     Penurunan bunyi nafas
9.       Keamanan
Gejala         :  Riwayat infeksi saat ini/dahulu; jatuh
                     Gangguan penglihatan/kerusakan
                     Perdarahan spontan tak terkontrol dengan trauma minimal
Tanda         :  Demam, infeksi
                     Kemerahan, purpura, perdarahan retinal, perdarahan gusi, atau epistaksis
                     Pembesaran nodus limfe, limpa, atau hati (sehubungan dengan invasi jaringan).
                     Papiledema dan eksoftalmus
                     Infiltrat leukimia pada dermis



10.   Seksulitas
Gejala         :  Perubahan libido.
                     Perubahan aliran menstruasi, menorgia.
                     Impoten
11.   Penyuluhan/pembelajaran
Gejala         :  Riwayat terpajan pada kimiawi, mis.benzene, fenilbutazon, kloramfenikol; kadar ionisasi radiasi berlebihan; pengobatan kemoterapi sebelumnya, khususnya agen pengkelat.
                     Gangguan kromosom, contoh sindrome Down atau anemia Franconi aplastik.

Pemeriksaan Diagnostik
1.       Hitung darah lengkap : Menunjukkan normositik, anemia normositik.
2.       Hemoglobulin : dapat kurang dari 10 gr/100 ml.
3.       Retikulosit : Jumlah biasanya rendah
4.       Trombosit : sangat rendah <50.000/mm.
5.       SDP : mungkin lebih dari 50000/cm dengan peningkatan SDP imatur.
6.       PTT : memanjang
7.       LED : mungkin meningkat
8.       Asam urat serum : mugkin meningkat
9.       Muramidase serum : pengiktan pada leukimia monositik akut dan mielomonositik.
10.   Copper serum : meningkat
11.   Zink serum : menurun
12.   Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat keterlibatan.
13.   Aspirasi sumsum tulang
14.   Pemeriksaan fungsi ginjal
15.   Pemeriksaan elektrolit




b.        Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperwatan yang akan muncul adalah :
Diagnosa
Etiologi
a.       Resiko tinggi infeksi




b.       Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan



c.       Nyeri



d.       Intoleransi aktivitas





e.       Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
f.        Perubahan perfusi jaringan

g.       Ganngguan pertukaran gas
h.       Gangguan pemenuhan nutrisi
i.         PK : Trombositopenia

a.       Tidak adekuatnya pertahanan sekunder
Tidak adekuatnya pertahan primer
Prosedur infasiv
Malnutrisi, penyakit kronis

b.       Penurunan pemasukan cairan
Kehilangan yang berlebihan oleh perdarahan.
Peningktan kebutuhan cairan

c.       Pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemik
Manifestasi psikologis
d.       Peningkatan laju metabolik dan produksi leukosit masif
Ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan okaigen
Pembatasan terapeutik (isolasi/tirah baring lama); efek terapi obat
e.       Kurang terpajan pada sumber
Salah interpretasi informasi/kurang mengingat.
f.        Penurunan kadar hB sekunder oleh destruksi sel darah merah
g.       Hambatan ventilasi dan perfusi
h.       Anoreksia


c.         Intervensi Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan pada klien dengan leukemia secara teoritis  menurut Dongoes, Marylinn E, (2000 : 599 – 604) yaitu :
1.       Resiko tinggi infeksi behubungan dengan tidak adekuat pertahan sekunder
Tujuan : Mengidentifikasi tindakan untuk mencegah atau menurunkan resiko tinggi.
Tindakan atau intervensi (rasional)  :
Mandiri       : Tempatkan pada ruanga khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional      : Melindungi dari sumber potensial patogen/infeksi. Catatan : supresi sumsum tulang berat, neutropenia, dan kemoterapi menempatkan pasien pada resiko tinggi infeksi.
Mandiri       : Berikan protokol untuk mencuci tangan yang baik untuk semua petugas dan pengunjung.
Rasional      : Mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi.
Mandiri       : Awasi tanda2 infeksi. Perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi. Observasi demam sehubungan dengan takikardi, hipotensi, perubahan mental samar.
Rasional      : Hipertermia lanjut terjadi padea beberapa tipe infeksi, dan demam (tidak berhubungan dengan obat atau produk darah) terjadi pada banyak pasien leukimia. Catatan: Septikemia dapat terjadi tanda demam.
Mandiri       : Cegah menggigil: tingkatkan cairan. Berikan mandi kompres.
Rasional      : Membantu menurunkan demam, yang menambah ketidak seimbangan cairan, ketidak nyamanan, dan komplikasi SSP.
Mandiri       : Dorong klien untuk sering mengubah posisi, nafas dalam, dan batuk.
Rasional      : Mencegah statis sekret pernafasan, menurunkan resiko atelektasis/pneumonia.   

Mandiri       : Insfeksi kulit untuk nyeri tekan
Rasional      : Mengidentifikasi infeksi lokal
Mandiri       : Inspeksi membran mukosa mulut
Rasional      : Rongga mulut adalah medium yang baik untuk perumbuhan organisme
Kolaborasi  : Hitung darah lengkap
Rasional      : Penurunan SDP abnormal dapat diakibatkan oleh proses penyakit atau kemoterapi.
Kolaborasi  :Berikan obat sesuai indikasi, contoh antibiotik
Rasional      : Untuk mengobatkan infeksi
Kolaborasi  : Berikan diet rendah bekteri, misalnya makanan dimasak, diproses.
Rasional      : Meminimalkan sumber potensial kontaminasi bakterial.      

2.       Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pendarahan
Tujuan : Menunjukan volume cairan adekuat, dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi teraba, dan haluaran urin.
Tindakan atau intervensi (rasional) :
Mandiri       : Awasi intake dan output
Rasional      : Kemungkinan dapat mengakibatkan batu ginjal, retensi urin dan ginjal.

Mandiri       : Timbang berat badan setiap hari
Rasional      : Mengukur keadekuatan penggantian cairan sesuai fungsi ginjal.
Mandiri       : Awasi tekanan darah dan frekuensi jantung
Rasional      : Perubahan dapat menunjukkan efek hipovolemia (perdarahan/dehidrasi).
Mandiri       : Perhatikan perdarah gusi
Rasional      : Supresi sumsum tulang dapat produksi trombosit menempatkan pasien pada resiko perdarahan spontan tak terkendali.
Kolaborasi  : Berikan cairan intravena sesuai indikasi
Rasional      : Mempertahankan keseimbangan cairan atau elektrolit karena tidak adekuatnya pemasukan oral.
Kolaborasi  :Berikan transfusi SDM, trombosit, faktor pembekuan.
Rasional      : Memperbaiki atau menormalkan jumlah SDM dan kapasitas pembawa oksigen untuk memperbaiki anemia, berguna untuk mencegah atau mengobati pendarahan.
3.       Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemik.
Tujuan : Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
Tindakan atau inetrvensi (Rasional) :
Mandiri       : Selidiki keluhan nyeri, perhatikan perubahan pada derajat dua sisi (gunakan skala 0-10).
Rasional      : Membantu mengkaji kebutuhan untuk intervensi:dapat mengidfentifikasi terjadinya komplikasi.
Mandiri       : Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong sendi, ekstrimitas dengan bantal atau bantalan.
Rasional      : Dapat menurunkan ketidaknyamanan tulang atau sendi.
Mandiri       : Ubah posisi secara periodik dan berikan atau bantu latihan rentang gerak.
Rasional      : Memperbaiki sirkulasi jaringan dan mobilitas sendi.


Mandiri       : Bantu atau berikan aktivitas terapeutik dan tehnik relaksasi
Rasional      : Membantu manajemen nyeri dengan perhatian langsung.
Kolaborasi  : Awasi kadar asam urat
Rasional      : Penggantian cepet dan dekstruksi leukimia (sel) selama kemoterapi meningkatkan asam urat, menyebabkan pembengkakan dan nyeri sendi.
Kolaborasi  : Berikan obat sesuai indikasi


4.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum
Tujuan laporan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur (nadi, pernafasan, tekanan darah dalam batas normal).
Tindakan / Intervensi (Rasional) :
Mandiri       : Perhatikan ketidak mampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari.
Rasional      : Efek leukimia, anemia dan kemoterapi : mungkin komulatif.
Mandiri       : Berikan lingkungan yang tenang
Rasional      : Menghemat energik untuk aktivitas dan regenarasi seluler / penyembuhan jaringan.
Mandiri       : Implmentasikan tehnik penghematan energi.
Rasional      : Memaksimalkan persediaan energi untuk tugas perawtan diri.
Kolaborasi  : Berikan oksigen tambahan
Rasional      : Memaksimalkan persediaan oksigen untuk kebutuhan seluler.

5.    Kurang Pengetahuan Berhubungan Dengan  Kurang Terpajan Pada Sumber
Tujuan : Menyatukan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan.
Tindakan / intervensi (Rasional) :
Mandiri          :  Kaji ulang patologi batuk khusus leukimiadan berbagai batuk pengobatan.
Rasional         :  Pengobatan doat termasuk berbagai obat anti neoplastik radiasi seluruh tubuh atau hati limfa, transfusi atau transportasi sumsum tulang.

6.       Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan hambatan ventilasi dan perfusi
Tujuan : Menunjukkan perfusi adekuat, misalnya tanda vital stabil, membran mukosa warna merah muda, pengisian kapiler baik, haluaran urin adekuat.
Mandiri          :  Awasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/membran mukosa, dasar kuku.
Rasional         :  Memeberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi.
Mandiri          :  Kaji untuk respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung.
Rasional         :  Dapat mengidentifikasikan gangguan fungsi serebral karena hipoksia atau defisiensi vitamin B12.
Mandiri          :  Catat keluhan rasa dingin, perthankan suhu lingkungan, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi.
Rasional         :  Vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamana pasien/kenutuhan rasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan perfusi organ).
Kolaborasi      :  Awasi pemeriksaan laboratorium, misalnya Hb/Ht dan jumlah SDM, GDA.
Rasional         :  Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan respon terhadap terapi.
Kolaborasi      :  Berikan SDM darah lengakap/packed, produk darah sesuai indikasi, awasi ketat untuk komplikasi transfusi.
Rasional         :  Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan.
 





BAB IV

PENUTUP

A.     Kesimpulan
Leukemia adalah kanker darah yaitu proliperasi dari sel darah putih yang ganas dan abnormal. Leukemia merupakan penyakit yang paling banyak di diderita oleh kaum adam. Penyebab dari penyakit leukemia sampai saat ini belum diketahui, namun faktor lingkungan dan genetik sangat berperan dalam pembentukan sel kanker ini. Faktor lingkungan berupa kontak dengan radiasi ionisasi disertai manifestasi leukemia yang timbul bertahun tahun kemudian.
      Klasifikasi leukemia terbagi menjadi dua yaitu akut dan kronis. Leukemia akut terdiri dari acute limphocytic leukemia (ALL), dan acute myelogenesis leukemia (AML), sedangkan leukemia kronis terdiri dari cronik lympocytic leukemia (CLL), dan cronic myelogeneus leukemia (CML).
Manifestasi klinis dari leukemia yaitu, rasa lelah, anemia, penurunan berat badan, pucat, pendarahan, nyeri tulang, dan pembesaran kelenjar getah bening.
Dalam konsep asuhan keperawatn klien dengan leukemia maslah keperwatan yang sering muncul adalah resiko infeksi karena tidak adekuatnya pertahan sekunder, sehingga intervensi yang dilakukan adalah pemberian antibiotik. Masalah keperawatan lain yang sering muncul adalah perubahan perfusi jaringan perifer akibat anemia.

B.     Saran
Adapun saran yang akan penulis sampaikan adalah sebagai berikut :
·         Penerapan asuhan keperawatan hendaknya secara menyeluruh dan konverhensif yang meliputi bio, psiko,sosial,dan spiritual sehingga tujuan tercapai dengan baik
·         Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman demi kesempurnaan makalah





DAFTAR PUSTAKA


Sudoyo,  Aru.W.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV.Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.Jakarta : 2006
Permono,Bambang.Buku Ajar Hematologo-OnkologiAnak.Badan Penerbit IDAI.Jakarta:2005
Engram, Barbara.Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah.EGC.Jakarta:1999
Doenges, Marilyn.E.Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.EGC.Jakarta:2000
Long, Barbar C.Perawatan Medikal Bedah.Yayasan Ikatan Alumni {endidikan keperawatan.Bandung:1996















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar